LOGOTERAPI-32

Aspek ketiga dari triad tragis berurusan dengan kematian. Namun, ia juga berurusan dengan kehidupan sebab setiap waktu dan setiap momen kehidupan selalu mengandung kematian, dan momen itu tidak akan pernah berulang. Namun bukankah kefanaan ini sebagai pengingat yang menantang kita untuk membuat kemungkinan penggunaan sebaik mungkin dari setiap momen dalam hidup kita? Tentunya demikian. Bagi saya inilah imperatif kehidupan: Hiduplah seakan-akan Anda hidup pada kesempatan kedua, bertindaklah seakan-akan kesalahan pertama kali yang Anda lakukan.
Faktanya, kesempatan untuk bertindak sempurna, kemungkinan pemenuhan makna, dipengaruhi oleh hidup kita yang tidak berulang. Namun, potensialitas itu sendiri juga dipengaruhi. Segera sesudah kita menggunakan kesempatan dan mengaktualisasikan makna potensial, kita telah melakukan sekali untuk semuanya.Kita telah menyimpannya ke masa lalu di mana ia terarsip dengan aman.  Di masa lalu, tidak ada kehilangan yang sia-sia, sebaliknya, segala sesuatu tersimpan dan sangat berharga. Memang, manusia cenderung melihat apa yang menjadi sandungan dalam kefanaan dan mengabaikan bahwa ia sebenarnya menjadi lumbung pengalaman yang menyimpan tuaian dalam hidup mereka, pekerjaan yang dilakukan, cinta yang dicintai, dan tidak kalah pentingnya, penderitaan yang mereka lalui dengan keberanian dan martabat.
Dengan demikian, tidak ada alasan untuk merasa kasihan dengan orang yang sudah lanjut usia. Sebaliknya, orang muda harus iri pada mereka. Benar bahwa mereka tidak lagi punya kesempatan dan kemungkinan di masa depan, tetapi mereka telah memiliki lebeih dari itu. Alih-alih kemungkinan di masa depan, mereka telah memiliki realitas di masa lalu—potensialitas yang telah mereka aktualisasikan, makna yang telah mereka penuhi, nilai yang telah mereka realisasikan—dan tidak sesuatu atau seorang pun yang bisa menghilangkan itu dari masa lalu.
Dalam memandang kemungkinan menemukan makna dalam penderitaan, makna hidup adalah sesuatu yang tanpa syarat, paling tidak secara potensial. Makna yang tanpa syarat itu, bagaimanapun, sejajar dengan nilai tanpa syarat bagi setiap orang. Inilah yang menjamin kualitas tak terhapuskan dari martabat manusia. Layaknya hidup yang menyimpan makna yang potensial dalam beberapa kondisi, bahkan jika hal itu melalui kesengsaraan, demikian juga nilai setiap orang tetap tinggal padanya, dan selalu demikian, sebab hal itu didasarkan pada nilai yang ia percayai di masa lalu, dan hal itu tidak bersyarat pada pemanfaatannya di masa sekarang.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan