LOGOTERAPI-31

Kembali pada aspek kedua ‘triad tragis’ rasa bersalah, saya ingin berangkat dari konsep teologis yang selalu menakjubkan bagi saya. Saya merujuk pada apa yang disebut sebagai myserium iniquitatis, makna, seperti yang saya lihat, kejahatan dalam analisis final menyisakan sesuatu yang tidak terjelaskan begitu saja sebab ia tidak bisa sepenuhnya dilacak pada aspek biologis, psikologis, maupun sosiologis. Penjelasan sepenuhnya sama saja akan menjelaskan kejahatan seseorang  tanpa melihatnya sebagai manusia yang bebas dan bertanggung jawab, namun hanya menganggapnya sebagai mesin yang harus diperbaiki. Bahkan pelaku kriminal itu sendiri tidak menyukai cara itu dan lebih suka diminta tanggung jawab terhadap apa yang dilakukan. Dari seorang pelayan narapidana di penjara Illinois, saya menerima sepucuk surat yang isinya menyayangkan bahwa “pelaku kejahatan tidak pernah mendapat kesempatan untuk menjelaskan dirinya sendiri. Ia menawarkan berbagai alasan yang membuatnya mengatakan demikian. Masyarakat selalu menyalahkan, dan dalam berbagai contoh, menyalahkan adalah menempatkan diri sebagai korban.” Lagi pula, ketika saya tujukan pada tawanan di San Quentin, saya sebutkan kepada mereka bahwa, “Anda adalah manusia sama dengan saya, dan begitu Anda bebas melakukan kejahatan dan merasa bersalah. Sekarang, bagaimanapun, Anda bertanggung jawab untuk mengatasi rasa bersalah dengan bangkit kembali, dengan bertumbuh melampaui dirimu sendiri, dengan memilih yang terbaik.” Mereka memahami, dan dari Frank E.W., seorang mantan narapidana, saya menerima kabar bahwa ia telah “memulai logoterapi kelompok mantan narapidana. Ada 27 orang yang ikut, yang terbaru tinggal di luar penjara dan menjalani penguatan teman sebaya. Hanya satu orang yang kembali, namun kini ia sudah bebas.”
Sementara untuk kejahatan kolektif, saya pribadi berpikir bahwa sungguh tidak adil untuk meminta seseorang untuk bertanggung jawab terhadap perilaku kolektif orang lain. Sejak akhir Perang Dunia kedua saya tidak pernah lelah untuk mengemukakan argument untuk menentang konsep kejahatan kolektif.  Kadang-kadang, bagaimanapun, dibutuhkan banyak upaya didaktif untuk mengeluarkan orang-orang dari takhayulnya. Suatu saat seorang perempuan Amerika mendatangi saya dan mencela, “Bagaimana Anda msih bisa menulis buku dalam Bahasa Jerman, Bahasanya Adolf Hitler?” Dengan ramah, saya bertanya kepadanya apakah ia memiliki sebilah pisau di dapurnya, dan ketika ia jawab bahwa ia punya, saya berpura-pura terkejut dan bertanya, “Bagaimana Anda masih mau menggunakan pisau setelah banyak orang telah menggunakannya untuk menusuk dan membunuh kerbannya?” Setelah itu, ia berhenti memprotes saya menulis dalam Bahasa Jerman.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan