LOGOTERAPI-30

Selama seperempat abad saya menjalankan pekerjaan saya di departemen neurologi di suatu rumah sakit umum dan menyaksikan kapasitas pasien saya untuk mengubah kesulitan menjadi prestasi. Sebagai tambahan pada pengalaman praktis, bukti-bukti empiris juga mendukung kemungkinan seseorang dapat menemukan makna dalam penderitaan. Penelitian di Yale University School of Medicine “telah dikesankan oleh sejumlah tawanan perang Vietnam yang secara eksplisit mengaku bahwa meskipun penangkapan mereka luar biasa stres—penuh dengan siksaan, penyakit, malnutrisi, dan pengurungan—untungnya, mereka masih bisa melihat adanya pertumbuhan pengalaman dari penangkapan itu.
Namun argumen yang paling kuat untuk mendukung “optimisme tragis” adalah apa yang dalam bahasa Latin disebut argumenta ad hominem. Jerry Long , mengutip salah satu contoh, adalah kesaksian hidup bagi “penyimpangan kekuasaan spirit manusia”,  seperti disebut dalam logoterapi. Mengutip Texarkana Gazette, “Jerry Long telah lumpuh dari leher ke bawah sejak kecelakaan diving yang membuatnya menjadi tunadaksa sejak empat tahun lalu. Ia berusia 17 tahun ketika kecelakaan terjadi. Sekarang ia dapat menggunakan mouth stick untuk mengetik. Ia mengikuti dua kursus di Community College melalui telepon khusus. Intercom memungkinkan Long untuk mendengar sekaligus aktif  berdiskusi dalam kelas. Dia juga memanfaatkan waktunya untuk membaca, menulis, dan menonton televisi. Dalam suatu surat yang saya terima darinya, ia menulis: “Saya melihat hidup saya sebagai hidup yang berlimpah makna. Sikap yang saya ambil pada saat hari naas itu menjadi kredo dalam kehidupan saya: “Saya mematahkan leher saya, namun hal itu tidak akan mematahkan saya. Saat ini saya didaftarkan pada kursus psikologi pertama saya di perguruan tinggi. Saya percaya bahwa cacat yang saya alami hanya sebagai tantangan pada kemampuan saya untuk membantu orang lain. Saya percaya bahwa tanpa penderitaan, pertumbuhan yang saya raih hanyalah ketidakmungkinan.”
Apakah ini mengatakan bahwa penderitaan sangat diperlukan untuk menemukan makna? Sama sekali tidak. Saya hanya menegaskan bahwa makna bisa didapat, bahkan dalam penderitaan, bila penderitaan itu tak terhindarkan. Bila hal itu dapat dihindarkan, hal bermakna yang dapat dilakukan adalah menghilangkan penyebabnya, sebab penderitaan yang tidak penting lebih merupakan masokis alih-alih heroik. Di sisi lain, bila seseorang tidak dapat mengubah situasi yang menyebabkan ia menderita, ia masih punya pilihan untuk mengubah sikapnya. Long tidak memilih untuk mematahkan lehernya, namun ia mengambil sikap untuk tidak dipatahkan oleh apa yang terjadi padanya.
Seperti kita lihat, prioritasnya terletak pada bagaimana kita dengan kreatif mengubah situasi yang membuat kita menderita. Namun, superioritasnya adalah “keterampilan menderita” bila diperlukan. Dan banyak bukti-bukti empiris bahwa—secara harfiah—manusia di jalanan juga memiliki peluang yang sama. Dalam suatu jajak pendapat di Austria, dilaporkan bahwa orang-orang yang memiliki harga diri yang tinggi dari banyak yang diwawancarai bukanlah pesohor atau ilmuwan besar, bukan pula negarawan atau olahragawan terkenal, tetapi mereka yang menguasai pikirannya dan menjaganya tetap berada di level tertinggi.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan