LOGOTERAPI-3

FRUSTRASI EKSISTENSIAL

Hasrat manusia terhadap makna dapat juga menjadi frustrasi, yang dalam kasus logoterapi disebut sebagai frustrasi eksistensial. Istilah eksistensial dapat digunakan dalam tiga cara: merujuk pada (1) Eksistensi itu sendiri, yakni cara keberadaan manusia yang spesifik;(2) makna eksistensi; dan (3)  upaya keras untuk menemukan makna konkrit dalam eksistensi personal, dengan kata lain hasrat terhadap makna.
Frustrasi eksistensial dapat juga dihasilkan pada neurosis. Jenis neurosis ini dalam logoterapi disebut neurosis noogenik, untuk membedakannya dengan neurosis dalam arti tradisional yakni neurosis psikogenik. Noogenik aslinya bukan istilah psikologi melainkan noologi (Noos dalam bahasa Yunani bermakna pikiran) dimensi eksistensi manusia.

Neurosis Noogenik

Neurosis Noogenik tidak muncul sebagai akibat konflik antara dorongan dan insting melainkan akibat problem eksistensial. Di antara banyak problem, frustrasi hasrat terhadap makna memainkan peran yang besar.
Jelas bahwa dalam noogenic, terapi yang sesuai dan cocok bukanlah psikoterapi umum melainkan logoterapi, terapi yang berani memasuki dimensi spesifik manusia.
Perkenankan saya mengutip contoh berikut: Seorang diplomat Amerika yang terkenal datang ke kantor saya di Wina dengan tujuan untuk melanjutkan perawatan psikoanalisis yang telah dimulainya lima tahun sebelumnya dengan seorang analis di New York. Pertama, saya bertanya padanya mengapa ia berpikir bahwa ia harus dianalisa, mengapa analisis menjadi pilihan pertama. Ternyata, ia merasa tidak puas dengan karirnya dan menemukan kesulitan besar dalam mematuhi kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Analisnya, bagaimanapun juga, telah beberapa kali menganjurkan agar ia mencoba mendamaikan dirinya dengan ayahnya, sebab pemerintahan Amerika Serikat maupun superiornya tidak lain adalah citra ayah, dan konsekuensinya, ketidakpuasannya terhadap karirnya disebabkan oleh kebencian yang terendap dalam bawah sadar terhadap ayahnya. Selama analisis lima tahun terakhir, pasien diminta untuk selalu menerima interpretasi analisisnya, hingga akhirnya ia tidak bisa lagi melihat simbol dan citra pepohonan dalam rimba raya realitas.
Setelah beberapa kali wawancara, jelas bahwa kehendak bermaknanya telah digagalkan oleh keahliannya , dan sebenarnya ia menginginkan terlibat dalam jenis pekerjaan lain. Karena tidak ada alasan untuk tidak meninggalkan profesinya dan memulai yang baru, ia melakukannya, dengan hasil yang sangat menggembirakan. Ia telah meninggalkan pendapat dalam pekerjaan barunya selama lebih lima dari tahun, seperti yang ia laporkan berikutnya. Saya ragu bahwa, dalam kasus ini, saya berurusan dengan kondisi neurotis sama sekali, dan karena itu saya berpikir bahwa ia tidak membutuhkan psikoterapi sama sekali, bukan juga logoterapi, untuk alasan sederhana bahwa ia bukanlah seorang pasien yang sebenarnya.
Posted in PHILOSOPHY TODAY.

Tinggalkan Balasan