LOGOTERAPI-29

Lalu, bagaimana manusia menemukan makna? Seperti dinyatakan oleh Charlotte Buhler: “Apa yang dapat kita lakukan adalah mempelajari kehidupan manusia yang tampak sudah menemukan jawaban terhadap pertanyaan apa akhirnya hidup manusia dibandingkan dengan yang belum mencapainya.” Sebagai tambahan bagi pendekatan biografis, dapat pula dilakukan pendekatan biologis. Logoterapi menerima hati nurani sebagai pembisik, yang bila diperlukan, akan menunjukkan arah ke mana kita harus bergerak dalam situasi yang ada. Untuk melaksanakan tugas demikian, hati nurani mesti menjadi tolok ukur bagi situasi yang dihadapi oleh seseorang dan situasi itu harus dievaluasi dalam terang sekumpulan criteria, dalam terang hierarki nilai. Nilai ini, bagaimanapun tidak dapat kita anut dan adaptasi dalam level sadar, —melainkan sesuatu yang menjadi diri kita sendiri. Nilai ini mengkristal dalam perjalanan evolusi spesies kita, ditemukan dalam masa lalu biologis kita, dan berurat-berakar di kedalaman biologis kita. Konrad Lorenz mungkin memikirkan hal yang sama ketika ia mengembangkan konsep apriori biologis, dan ketika kami mendiskusikan pandangan saya sendiri tentang landasan biologis proses pembentukan nilai, dengan sangat antusias ia menyatakan kesetujuannya. Dalam beberapa kasus, aksiologis prareflektif pemahaman diri hadir, kita dapat mengasumsikan bahwa pada akhirnya hal itu berlabuh pada warisan biologis kita.
Seperti yang diajarkan oleh logoterapi, ada tiga jalan utama yang membuat kita tiba pada makna hidup. Pertama adalah dengan menciptakan karya atau melakukan sesuatu. Kedua dengan mengalami sesuatu atau berhadapan dengan seseorang, dengan kata lain makna  dapat ditemukan bukan hanya dalam karya tetapi juga dalam cinta. Edith Weisskopf Joelson mengamati dalam konteks ini bahwa logoterapi “gagasan bahwa pengalaman sama nilainya dengan pencapaian adalah terapi sebab hal itu mengkompensasikan satu sisi dari dunia luar pencapaian dan pada dunia internal pengalaman.
Paling penting adalah jalan ketiga untuk mencapai makna dalam kehidupan: bahkan korban tak tertolong dari situasi tak berpengharapan, melewati nasib yang tak terubah, dapat bangkit pada dirinya sendiri, dapat melampaui dirinya sendiri, dan dengan demikian dapat mengubah dirinya sendiri. Dia bisa mengubah tragedi menjadi kemenangan. Terhadap hal itu, Edith Weisskopf Joelson seperti disebutkan sebelumnya menyatakan harapan bahwa logoterapi dapat membantu menanggulangi kecenderungan ketidaksehatan budaya saat ini di Amerika Serikat, di mana penderita tak tersembuhkan diberikan kesempatan yang sangat kecil untuk menjadi bangga dengan penderitaannya dan menjadikannya sebagai kemuliaan alih-alih merendahkan” dengan demikian “ia tidak hanya tak bahagia, namun juga malu dengan dirinya yang tidak bahagia.”
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan