LOGOTERAPI-28

Tentang fase kedua sindrom neurosis massa—agressi— saya akan mengutip eksperimen yang dipimpin oleh Carolin Wood Sherif. Ia berhasil di permukaan membangun saling agresi antara kelompok-kelompok pramuka, dan mengamati bahwa penyerangan hanya dapat berkurang apabila anak muda mendedikasikan dirinya untuk tujuan kolektif—yakni, menyeret kereta yang berisi makanan dalam lumpur untuk dibawa ke kamp mereka. Segera, mereka tidak hanya tertantang, namun juga disatukan oleh makna yang harus mereka penuhi bersama.
Untuk fase ketiga, ketagihan, saya teringat temuan yang dipresentasikan oleh Annemarie von Forstmeyer, yang mencatat bahwa, sebagai bukti uji statistik  bahwa 90 persen alkoholik yang ditelitinya menderita perasaan sama sekali tidak bermakna. Pada ketagihan obat-obatan yang diteliti oleh Stanley Krippner, 100 persen mempercayai bahwa “sesuatu tampak tak bermakna”.
Sekarang, kita kembali ke pertanyaan tentang makna itu sendiri. Untuk memulainya, saya ingin menjelaskan di awal, bahwa logoterapi terpusat pada makna potensial yang inheren dan terkandung dalam situasi tunggal yang harus dilalui oleh seseorang dalam hidupnya. Dengan demikian, saya tidak akan mengelaborasi makna kseluruhan dalam hidup seseorang.  Meskipun demikian, saya tidak menyangkal kemungkinan adanya makna dalam durasi yang panjang. Sebagai analogi, pertimbangkan sebuah film: film berisi ribuan gambar individual dan masing-masing mereka membuat kesan dan membawa makna,namun  makna dari keseluruhan film itu tidak bisa dipahami sebelum semua adegan selesai. Bagaimanapun, kita tidak dapat memahami keseluruhan cerita tanpa lebih dulu memahami tiap-tiap bagian, tiap-tiap gambar individual. Bukankah hal itu sama dengan kehidupan? Bukankah makna akhir kehidupan terungkap dengan sendirinya, setelah semuanya berakhir di ambang kematian? Dan bukankah makna akhir ini juga tergantung pada apakah makna potensial dari setiap situasi sudah diaktualisasikan atau tidak dalam pengetahuan dan kepercayaan individual terbaik masing-masing?
Fakta mengingatkan bahwa makna, seperti yang terlihat dari sudut logoterapi, benar-benar membumi alih-alih mengambang di awing-awang atau tinggal di menara gading. Dengan memperhatikan semuanya, saya akan menempatkan kognisi makna—makna personal dari situasi konkrit—berada di pertengahan antara konsep pengalaman “aha” sepanjang garis Karl Buhler dengan persepsi Gestalt.yakni sepanjang garis teori Max Wertheimer. Persepsi makna berbeda dari konsep klasik persepsi Gestalt sejauh implikasi akhir kesadaran tiba-tiba tentang “gambar” dan “latar” di mana persepsi tentang makna, seperti yang saya lihat, lebih khusus bermuara pada menjadi sadar terhadap kemungkinan menolak latar belakang realitas untuk menyatakannya secara lugas,  menjadi sadar apa yang harus dilakukan dalam situasi yang ada.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan