LOGOTERAPI-27

Faktanya, narkoba adalah salah satu gejala yang lebih umum, yaitu perasaan tidak bermakna hasil dari frustasi kebutuhan eksistensial yang pada gilirannya menjadi gejala universal dalam masyarakat industri. Sekarang, bukan hanya logoterapis yang mengklaim bahwa perasaan tidak bermakna memainkan peran yang semakin meningkat dalam etiologi neurosis. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Irvin D. Yalom dari Stanford University dalam psikoterapi eksistensial:”Empat puluh pasien berturut-turut yang mendaftar di suatu klinik rawat jalan, dua belas orang (tiga puluh persen) memiliki masalah utama yang melibatkan makna (berdasarkan penilai diri, terapis, dan juri independen). Ribuan mil sebelah Timur Palo Alto, hasilnya hanya berbeda sebesar satu persen. Statistik terbaru terkait dengan Wina mengindikasikan bahwa sebanyak 29 persen dari populasi mengaku bahwa hidup mereka telah kehilangan makna.
Terhadap penyebab kehampaan makna, seseorang dapat menyebutkan, meskipun terlalu menyederhanakan, bahwa orang hanya menjalani hidup tanpa tahu untuk apa ia hidup, mereka memiliki tujuan namun tidak memiliki makna. Sebagian besar bahkan tidak memiliki tujuan. Secara khusus saya pikir adalah orang-orang yang sedang pengangguran. Puluhan tahun yang lalu, saya pernah mempublikasikan penelitian yang ditujukan secara khusus untuk jenis depresi yang saya diagnosi untuk seorang anak muda pasien penderita dalam kasus yang saya sebut “neurosis pengangguran”. Saya akan menunjukkan bahwa neurosis ini sebenarnya berasal dari kekeliruan identifikasi ganda: menjadi tidak bekerja disamakan dengan menjadi tidak berguna, dan menjadi tidak berguna disamakan dengan menjadi tidak bermakna. Konsekuensinya adalah, ketika saya berhasil membujuk pasien untuk menjadi seorang relawan pada organisasi pemuda, pendidikan dewasa, perpustakaan umum, dan sebagainya—dengan kata lain, ketika mereka berhasil mengisi waktunya yang luang dengan berbagai aktivitas bermakna tertentu— depresi mereka hilang meskipun situasi ekonomi mereka tidak berubah dan kelaparan mereka tetap sama. Sesungguhnya orang itu bukanlah tergolong sejahtera.
Dalam neurosis pengangguran yang dipicu oleh situasi sosioekonomi individu, ada jenis lain depresi yang dapat dilacak kembali ke psikodinamis atau kondisi biokimia yang memungkinkan kasus. Sesuai dengan itu, psikoterapi dan farmakoterapi terindikasi bergantian. Sejauh perasaan tak bermakna menjadi perhatian, bagaimanapun, kita tidak akan mengabaikan atau melupakan bahwa dalam dirinya sendiri, hal itu bukanlah masalah patologi melainkan sinyal dan symptom neurosis, yang saya katakan sebagai bukti kemanusiaan seseorang. Namun, meskipun hal itu bukan disebabkan oleh soal patologis, hal itu bisa saja disebabkan oleh reaksi patologis. Dengan kata lain, hal itu potensial patogenik. Sekadar mempertimbangkan sindrom neurosis massif yang merasuk generasi muda: terdapat bukti eksperimen yang cukup bahwa tiga fasa syndrome ini—depresi, agresi, dan ketagihan—disebabkan oleh apa yang disebut dalam logoteapi sebagai “kehampaan eksistensial” suatu perasaan kosong dan tidak bermakna.
Hal itu tanpa mengatakan bahwa tidak semua atau setiap kasus depresi dapat dilacak kembali ke perasaan tidak bermakna, juga bunuh diri—di mana kadang depresi berakhir—selalu dihasilkan dari kehampaan eksistensial. Namun bahkan bila semua atau setiap kasus bunuh diri bukan sebagai akibat perasaan tak bermakna, sangat mungkin bahwa dorongan individual mengakhiri hidupnya  akan mengatasi apa yang disadarinya tentang sesuatu yang bermakna dan tujuan hidup yang berharga.
Jika sebuah makna yang kuat memainkan peran yang menentukan dalam pencegahan bunuh diri, intervensi yang bagaimana yang dapat dilakukan dalam kasus di mana terdapat risiko bunuh diri? Sebagai seorang dokter muda, saya menghabiskan empat tahun bekerja di rumah sakit pemerintah yang terbesar di Austria di mana saya bertugas di paviliun yang menampung orang-orang yang menderita depresi—kebanyakan mereka masuk perawatan setelah upaya bunuh diri. Suatu saat saya pernah menghitung bahwa saya telah berhadapan dengan dua belas ribu pasien selama empat tahun. Akumulasi pengalaman yang cukup bagi saya untuk menggambarkan ketika saya dihadapkan pada pasien yang rentan bunuh diri. Saya jelaskan kepada orang lain bahwa para pasien berulang-ulang mengatakan kepada saya betapa gembiranya mereka ketika upaya bunuh dirinya tidak berhasil. Beberapa minggu, beberapa bulan, dan beberapa tahun kemudian, mereka mengatakan kepada saya, ternyata ada solusi bagi persoalan mereka, jawaban terhadap pertanyaan mereka, makna bagi hidup mereka. “Bahkan bila hal itu hanya satu dari ribuan kasus,” lanjut saya, “Siapa yang dapat menjamin bahwa dalam kasus Anda hal itu tidak terjadi, cepat atau lambat? Namun yang paling utama, Anda harus hidup dengan memperhatikan kapan terjadinya peristiwa itu, dan Anda mesti bertahan untuk menyaksikan fajar, dan sejak saat itu, tanggung jawab untuk tetap bertahan tidak akan pernah meninggalkanmu.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan