LOGOTERAPI-25

OPTIMISME TRAGIS
Pertama, mari kita tanyakan pada diri sendiri, apa yang dapat dipahami dari “optimisme tragis”. Secara ringkas, hal itu bermakna ketika seseorang masih optimis meskipun berada dalam situasi “triad tragis” seperti yang dinamai dalam logoterapi, triad yang terdiri dari aspek-aspek eksistensi manusia yang dilingkupi oleh: (1) rasa sakit, (2) rasa bersalah, dan (3) kematian.
Faktanya, bagian ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana mungkin kita bisa mengatakan ya terhadap kehidupan sekalipun banyak persoalan. Bagaimana menghadapi pertanyaan yang berbeda, dapatkah hidup mempertahankan makna potensial sekalipun dalam aspek tragis? Akhirnya, “mengatakan ya terhadap kehidupan dalam segala situasi” yang menggunakan frase dalam judul buku saya, mengandaikan bahwa hidup berpotensi penuh makna dalam semua kondisi bahkan dalam situasi paling merana. Dan hal ini pada akhirnya mengandaikan kapasitas manusia untuk secara kreatif mengubah aspek negatif kehidupan menjadi sesuatu yang positif atau yang konstruktif. Dengan kata lain, hal apa yang menjadikan situasi menjadi yang terbaik dalam setiap situasi terberikan. “Terbaik” maksudnya dalam Bahasa Latin disebut optimum—inilah alasan saya berbicara optimisme tragis, yaitu optimisme dalam menghadapi tragedy dan dalam memandang potensi manusia selalu yang terbaik dimungkinkan dari: (1) mengubah penderitaan menjadi prestasi atau pencapaian, (2) berubah dari menyalahkan kesempatan dengan mengubah diri sendiri, dan (3) berubah dari pandangan yang bersifat kefanaan menjadi aksi mengambil tanggung jawab.
Harus dijaga dalam pikiran bahwa bagaimanapun optimisme bukanlah sesuatu yang dapat dipaksakan atau diatur. Seseorang bahkan tidak dapat memaksa dirinya untuk menjadi optimis, dalam setiap kesempatan, dalam setiap situasi yang diharapkan. Apa yang benar untuk pengharapan benar juga untuk dua triad lainnya, iman, dan kasih, tidak dapat dipaksakan atau diatur.
Untuk orang Eropa, ini adalah karakter budaya orang Amerika, bahwa setiap orang diatur dan dipaksa untuk bahagia. Namun kebahagiaan tidak bisa dikejar, ia adalah keniscayaan. Seseorang harus memiliki alasan untuk menjadi bahagia. Ketika alasan itu ditemukan, secara otomatis ia akan menjadi bahagia, yang tak kalah pentingnya, melalui aktualisasi makna potensial, yang inheren dan terkandung dalam situasi terberi.
Kebutuhan alasan ini sama dengan fenomena khusus lainnya pada manusia—tertawa. Jika Anda ingin seseorang tertawa, Anda harus menyediakan alasan baginya untuk tertawa, yakni dengan menceritakannya suatu lelucon. Tidak ada cara lain untuk membangkitkan tawa yang sebenarnya pada orang lain, termasuk dengan memaksanya, atau menyuruhnya memaksa dirinya untuk tertawa.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan