LOGOTERAPI-24

Inilah kisah tentang dr. J, “Pembunuh  massal dari Steinhof” bagaimana kita berani memprediksi perilaku manusia? Kita dapat memprediksi pergerakan mesin, kita dapat memprediksi pergerakan robot, bahkan kita dapat memprediksi dinamisme jiwa manusia dengan baik, namun dimensi manusia lebih dari sekadar jiwa.
Kebebasan bukanlah kata terakhir. Kebebasan hanya bagian dari cerita dan separuh dari kebenaran. Kebebasan dapat mengandung aspek negatif dari keseluruhan fenomena di mana aspek positifnya adalah tanggung jawab. Faktanya, kebebasan bisa menjadi berbahaya bila dipahami hanya sekadar bisa sesuka hati kecuali ia hidup dalam tanggung jawab. Dengan pertimbangan itulah, saya menyarankan Statue of liberty on The East Coast dilengkapi dengan Statue of Responsibility on The West Coast.
KREDO PSIKIATER
Tidak dapat dibayangkan kondisi di mana manusia tidak memiliki sedikit pun kebebasan. Dengan demikian, kebebasan yang tersisa, betapapun terbatasnya, masih ada pada manusia dalam kasus neurotis bahkan psikotis. Sesungguhnya, bagian terdalam dari pasien tidak akan tersentuh bahkan oleh psikosis. Psikotis individual yang tak tersembuhkan bisa saja kehilangan manfaatnya, namun masih menyisakan martabat kemanusiaan. Inilah kredo psikiatrik saya.Tanpa hal itu, saya pikir jadi psikiater akan kehilangan pesonanya. Demi apa? Apakah demi kerusakan otak yang tak bisa diperbaiki? Jika pasien sudah pasti tidak bisa lebih baik, euthanasia menjadi dibenarkan.
REHUMANISASI PSIKATRI
Sudah sangat lama psikiater mencoba menginterpretasikan pikiran manusia sekadar mekanisme. Konsekuensinya adalah terapi penyakit jiwa yang berpusat pada teknik terapi. Saya yakin bahwa hal itu harus berubah.  Apa yang sekarang mulai dirajut pada horison bukanlah pengobatan psikologi melainkan psikiatri humanis.
Seorang dokter yang masih memiliki cara pandang sebagai teknisi akan memandang pasiennya tidak lebih dari sekadar mesin alih-alih memandangnya sebagai manusia yang sakit.
Manusia bukanlah benda, benda yang saling terbatas satu sama lain, manusia membatasi dirinya sendiri. Menjadi apa dia—dengan batas lingkungan—tergantung pada dirinya sendiri. Sebagai contoh, di kamp konsentrasi sebagai laboratorium kehidupan dan medan ujian, kita dapat melihat dan menyaksikan beberapa orang yang berperilaku jahat sedangkan yang lainnya berperilaku seperti seorang santo. Manusia memiliki potensi untuk menjadi baik dan jahat, bukan karena keadaan melainkan karena keputusan.
Generasi kita adalah generasi yang realistis, yang telah memahami manusia sebagaimana adanya. Akhirnya, manusia adalah makhluk yang menemukan kamar gas di Auschwitz, dan manusia pulalah makhluk yang melenyapkan kamar gas itu.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan