LOGOTERAPI-23

KRITIK PANDETERMINISME
Psikoanalisis biasanya dipersalahkan untuk apa yang dinamakan panseksualisme. Saya, salah seorang yang meragukan keabsahan cercaan itu. Bagaimanapun, ada satu asumsi yang lebih keliru dan berbahaya, yaitu apa yang saya namakan “pan-determinisme”. Artinya, yang saya maksud sebagai pandangan seseorang tidak menghormati kapasitasnya mengambil posisi untuk menghadapi kondisi apapun. Manusia tidak sepenuhnya dikondisikan atau ditentukan oleh situasi, namun menentukan dirinya sendiri apakah ia akan menyerah atau menghadapinya. Dengan kata lain, manusia sungguh-sungguh mendeterminasi diri, Manusia tidak eksis secara sederhana, namun selalu mementukan eksistensinya menjadi apa dia kelak, menjadi apa dirinya di masa depan.
Dengan cara yang sama, setiap manusia memiliki kebebasan untuk berubah dalam setiap situasi. Dengan demikian, kita dapat memprediksi masa depannya hanya melalui kerangka besar survey statistic merujuk pada keseluruhan kelompok. Personalitas individu, bagaimanapun, pada dasarnya tetap tak terprediksi. Dasar untuk berbagai prediksi didasarkan pada kondisi biologis, sosiologis, dan psikologis. Namun salah satu ciri eksistensi manusia adalah kapasitasnya untuk bangkit dalam berbagai situasi, untuk tumbuh melampaui kondisi itu. Manusia dapat mengubah dunia menjadi sebaik yang memungkinkan, dan mengubah dirinya sendiri sebaik yang diperlukan.
Saya akan mengutip kasus dr.J. Ia adalah seseorang yang pernah saya hadapi dalam seluruh hidup saya yang padanya saya berani menyebut Mephistophelean, figur setan. Pada saat ia umumnya disebut “Pembunuh massal Steinhof” (rumah sakit jiwa besar di Wina). Ketika Nazi memulai program euthanasia mereka, ia memegang semua komando dan sangat fanatic dalam pekerjaan yang dipercayakan padanya dengan tidak membiarkan seorang pun melarikan diri dari kamar gas. Ketika perang usai dan saya kembali ke Wina, saya menanyakan apa yang terjadi pada dr.J. “Dia telah dipenjarakan oleh orang Rusia dalam salah satu sel terisolasi di Steinhof,” ujar mereka.”Hari berikutnya, ketika pintu sel tempat ia dipenjara dibuka, ia sudah tidak ada.” Berikutnya, saya diberitahu bahwa, seperti yang lain, ia telah dibantu oleh sahabatnya dan membuatnya bisa pergi ke Amerika Selatan. Baru-baru ini, saya diberi tahu oleh seorang mantan diplomat di Austria yang pernah dipenjara selama beberapa tahun, pertama di Siberia dan kemudian di Lubianka, penjara terkenal di Moskow. Ketika ia saya periksa secara neurologi, ia bertanya kepada saya, “Apakah Anda mengenal dr.J?” Setelah saya jawab, ia melanjutkan, “Saya mengenalnya di Lubianka. Di sana ia meninggal pada usia sekitar empat puluhan akibat penyakit kanker kandung kemih. Sebelum ia meninggal, ia menunjukkan dirinya sebagai sahabat terbaik yang bisa Anda bayangkan! Ia member penghiburan kepada setiap orang. Ia hidup dengan standar moral yang paling tinggi. Ia adalah sahabat terbaik yang pernah saya temui selama saya di penjara.”
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan