LOGOTERAPI-22

Seperti kita lihat, kecemasan antisipatif harus dilawan dengan parakdoks intensi. Hiperintensi, seperti hiperrefleksi harus dilawan dengan derefleksi. Derefleksi, pada akhirnya tidak mungkin kecuali orientasi pasien terhadap panggilan dan misi khusus dalam hidupnya.
Bukan perhatian terhadap neurosis, yang berhubungan dengan rasa kasihan dan penghinaan, yang akan memutus formasi lingkaran, isyarat terhadap kesembuhan adalah transendensi diri.
NEUROSIS KOLEKTIF
Setiap era memiliki neurosisnya tersendiri, dan setiap era membutuhkan psikoterapinya sendiri untuk menanggulanginya. Kehampaan eksistensial yang merupakan neurosis massif sekarang ini dapat dinyatakan sebagai bentuk nihilime perorangan atau personal; bila nihilisme dapat didefinisikan sebagai anggapan bahwa kehidupan tidak memiliki makna. Bagi psikoterapi, tidak akan pernah bisa mengatasi keadaan seperti itu dalam skala massif  jika ia tidak bisa membebaskan dirinya sendiri dari dampak dan pengaruh kecenderungan kontemporer filsafat nihilistik, jika tidak, hal itu akan merepresentasikan symptom neurosis missal dari pada kemungkinan penyembuhan. Psikoterapi tidak hanya merefleksikan filsafat nihilistik,  melainkan juga akan mengirimkan kepada pasien apa yang nyata-nyata sebagai karikatur dari pada gambaran sebenarnya dari manusia meskipun tanpa disadari.
Di atas semuanya, ada bahaya yang inheren dalam pengajaran bahwa manusia adalah “nothingbutness”, teori yang mengajarkan bahwa manusia bukanlah sesuatu melainkan hasil dari kondisi biologis, sosiologis, dan psikologis, atau produk hereditas dan lingkungannya. Beberapa pandangan tentang manusia membuat seorang neurosis percaya apa yang memang cenderung ia percayai; bahwa ia adalah bidak atau korban dari pengaruh lingkungan. Neurosis fatalisme ini dipelihara oleh aliran psikoterapi yang menolak bahwa manusia adalah makhluk yang bebas.
Untuk lebih meyakinkan, kehidupan manusia adalah sesuatu yang terbatas, dan kebebasannya dibatasi. Bukan bebas dari kondisi, namun bebas mengambil sikap terhadap kondisi. Seperti yang pernah saya jelaskan: “Sebagai seorang professor dalam dua bidang, neurologi dan psikiatri, saya menyadari sepenuhnya bahwa manusia adalah subjek bagi kondisi biologis, sosiologis, dan psikologis. Namun, sebagai seorang professor dalam dua bidang, saya juga adalah penyintas dari empat kamp —kamp konsentrasi. Berdasarkan hal itu, saya selalu berani bersaksi bahwa manusia dapat menentang dan berani menantang bahkan situasi yang paling buruk sekalipun.
Posted in PHILOSOPHY TODAY.

Tinggalkan Balasan