LOGOTERAPI-21

Paradoks intensi bukanlah obat mujarab, namun ia memberikan alat yang sangat bermanfaat dalam menangani obssesif-kompulsif dan kondisi fobia, khususnya dalam kasus dalam bentuk kecemasan antisipatif. Selain itu, paradoks intensi adalah perangkat terapi jangka pendek. Bagaimanapun, seseorang tidak dapat menyimpulkan bahwa suatu terapi jangka pendek dibutuhkan untuk menghasilkan efek terapi jangka pendek. Salah satu “ilusi paling umum ortodoksi Freudian” mengutip Emil A. Gutheil “adalah durabilitas hasil tergantung pada lamanya terapi”. Meski demikian, dalam catatan saya, laporan kasus tentang pasien yang padanya dilakukan terapi paradoks intensi sejak dua belas tahun yang lalu membuktikan bahwa hasilnya permanen.
Salah satu fakta yang paling luar biasa adalah bahwa paradoks intensi efektif terhadap etiologi berdasarkan perhatian pada kasus. Hal ini mengonfirmasi pernyataan yang pernah dibuat oleh Edith Weisskof Joelson: “Meskipun psikoterapi tradisional telah menegaskan bahwa praktik terapi harus didasarkan pada temuan etiologi, namun memungkinkan bahwa faktor tertentu menyebabkan neurosis pada masa anak-anak dan keseluruhan faktor yang berbeda dapat meredakan neurosis pada masa dewasa.
Sebagai penyebab aktual neurosis, terlepas dari unsur-unsur konstitusional, di mana somatik atau psikis secara alami, beberapa mekanisme umpan balik seperti kecemasan antisipatif tampaknya menjadi faktor utama patogenik. Gejala direspon oleh fobia, fobia memicu gejala, dan gejala, pada gilirannya akan memperkuat fobia. Rantai peristiwa yang sama, bagaimanapun dapat diamati pada kasus obsessif-kompulsif di mana pasien bergulat dengan ide yang menghantuinya. Dengan demikian, ia meningkatkan daya yang mengganggunya, sebab endapan tekanan menekan kembali. Kembali gejala dikuatkan! Di sisi lain, segera setelah pasien berhenti bergulat dengan obsesinya dan malah mencoba meremehkannya dengan menanganinya dengan cara yang ironis—paradoks intensi—lingkaran setan terputus, gejala berkurang dan akhirnya berhenti. Dalam kasus menguntungkan, di mana tidak ada kehampaan eksistensial yang mengundang dan menimbulkan gejala, pasien bukan hanya berhasil meremehkan ketakutan neurosisnya, melainkan akan berhasil secara keseluruhan untuk mengabaikannya.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan