LOGOTERAPI-20

Kasus yang sama berhubungan dengan persoalan bicara bukan dengan persoalan menulis dialami kolega saya di Laryngplogical Department di Wina Poliklinik Hospital. Ia paling sering mengalami kasus kegagapan selama beberapa tahun ia berpraktik. Tidak pernah ia bebas dari kesalahan bicara sejauh yang ia ingat tentang kegagapannya, bahkan untuk sesaat, kecuali satu kali. Saat itu ia berusia dua belas tahun dan mempunyai kebiasaan mengendara di jalan raya. Ketika ia tertangkap, ia berpikir bahwa tidak ada jalan lain untuk mengelak selain mendapatkan simpati. Ia pun berupaya berpura-pura menjadi orang yang gagap. Saat itu, ketika ia berusaha keras menunjukkan kegagapan, malah ia tidak berhasil. Dalam kasus ini, ia telah mempraktikkan paradoks intensi, meskipun bukan untuk tujuan terapi.
Bagaimanapun, contoh itu tidak akan meninggalkan kesan bahwa paradoks intensi hanya efektif untuk kasus mono-symptom. Dengan cara teknik logoterapi ini, staf saya di Vienna Poliklinik Hospital telah berhasil membawa gambaran yang jelas bahkan dalam neurosis obsessif-kompulsif dalam derajat yang sangat sering dan berulang. Sebagai contoh, saya merujuk pada seorang wanita berusia 65 tahun yang telah menderita kompulsi mencuci selama enam puluh tahun. Dokter Eva Kozdera memulai terapi dengan cara paradoks intensi, dan dua minggu kemudian pasien bisa menjalani hidup yang normal. Sebelum mendaftar di departemen neurologi Vienna Poliklinik Hospital, ia mengaku “Hidup bagaikan neraka bagi saya.” Akibat kompulsi dan obsesi fobia bakterinya, akhirnya ia sepanjang hari hanya berada di tempat tidur dan tidak dapat mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak akurat bila mengatakan bahwa ia kini bebas sepenuhnya dari symptom, sebab obsesi dapat saja datang ke pikirannya.Bagaimanapun, ia dapat membuat “lelucon tentang itu” seperti yang ia katakan; dengan singkat; paradoks intensi.
Paradoks intensi juga dapat digunakan pada kasus gangguan tidur. Ketakutan sulit tidur dihasilkan oleh hyper-intensi terhadap tidur, yang pada gilirannya menghambat pasien untuk mengalami hal yang semestinya. Untuk mengatasi ketakutan itu, saya biasanya menyarakankan pasien untuk tidak mencoba berupaya tidur melainkan melakukan kebalikannya, berupaya untuk tetap terjaga selama mungkin. Dengan kata lain, hyper-intensi terhadap tidur timbul dari kecemasan antisipatif tidak dapat melakukan hal yang sama harus digantikan dengan paradoks intensi tidak ingin tidur, yang segera akan diikuti dengan tidur.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan