LOGOTERAPI-18

LOGOTERAPI SEBAGAI TEKNIK
Ketakutan realistis seperti ketakutan terhadap kematian, tidak dapat ditenteramkan dengan interpretasi psikodinamik; di sisi lain, ketakutan neurosis seperti agoraphobia, tidak dapat disembuhkan dengan pemahaman filosofis. Bagaimanapun, logeterapi telah mengembangkan teknik khusus untuk menangani beberapa kasus. Untuk memahami apa yang terjadi ketika teknik itu digunakan, kita mengambil titik awal, kondisi yang secara periodik diamati dalam neurosis individu, yang dinamakan kecemasan antisipatif (anticipatory anxiety). Karakteristik ketakutan jenis ini adalah bahwa ia menghasilkan persis seperti apa yang dikhawatirkan oleh pasien. Sebagai contoh, orang yang cemas akan merasa grogi ketika memasuki ruangan besar dan berhadapan dengan banyak orang akan lebih rentan mengalami kejadian itu dalam kondisi yang sebenarnya. Dalam konteks ini, seseorang dapat berubah dengan mengatakan, “Harapan adalah ayah dari pemikiran” menjadi “Ketakutan adalah ibu dari peristiwa”.
Cukup ironis, dengan cara yang sama dengan bagaimana ketakutan membawa kejadian yang ditakuti, begitu pula keinginan yang terpaksa membuat tidak mungkin terjadinya keinginan itu. Keinginan yang terpaksa atau “hyper-intention” itu dapat diamati sebagian pada kasus neurosis seksual. Semakin seorang pria mendemonstrasikan potensi seksualnya atau seorang wanita dengan kemampuan pengalaman orgasmenya, semakin kecil kemungkinan mereka berhasil. Kenikmatan adalah efek samping atau hasil, dihancurkan dan dimanjakan hingga ke derajat di mana ia membuat tujuan pada dirinya sendiri.
Sebagai tambahan bagi keinginan yang berlebihan seperti dijelaskan di atas, atensi berlebihan atau “hyper-reflection” sebagaimana disebut dalam logoterapi, dapat juga menjadi patogenik (sebagai penyebab penyakit). Laporan klinis berikut akan menjelaskan apa yang saya maksud: Seorang wanita muda mendatangi saya dan mengeluhkan kondisinya yang frigid. Sejarah kasus menunjukkan bahwa pada masa kecilnya ia mengalami pelecehan seksual dari ayahnya. Bagaimanapun, bukan pengalaman traumatik itu sendiri yang terus mewujud dalam neurosis seksualnya, seperti yang dengan mudah dibuktikan. Untuk mengubahnya, dengan membaca literature psikoanalisa popular, pasien telah hidup secara terus- menerus dalam ekpektasi penuh ketakutan terhadap pengalaman traumatiknya.Kecemasan antisipatif ini menghasilkan kecemasan berlebihan untuk mengonfirmasi feminitasnya dan perhatian yang berlebihan  yang berpusat pada dirinya sendiri lebih dari pada terhadap patnernya. Hal itu cukup membuat pasien merasa tidak memiliki kapasitas terhadap pengalaman puncak kenikmatan seksual. Ketika orgasme dibuat menjadi pusat perhatian, dan sebuah objek perhatian demikian, meskipun meninggalkan efek yang tidak diperhatikan dari dedikasi yang tidak terfleksikan serta menyerah kepada patner. Setelah melalui perlakuan singkat logoterapi, perhatian berlebihan dari pasien dan perhatian terhadap kemampuannya mengalami orgasme telah mengalami “derefleksi”. Bila perhatiannya difokuskan kembali terhadap objek yang tepat, yakni patnernya, orgasme akan muncul secara spontan.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan