LOGOTERAPI-16

Kadang, bila pasien memiliki landasan spiritual yang kokoh, tidak akan timbul keberatan bila menggunakan keyakinan spritualnya sebagai efek terapi keyakinan spritualnya dan karenanya menggeser sumber spritualnya. Untuk melakukan hal itu, seorang psikiater harus dapat menempatkan dirinya pada posisi pasien. Seperti yang pernah saya lakukan ketika seorang rabbi dari Eropa Timur menemui saya dan menceritakan. Ia kehilangan istri pertama dan enam orang anaknya yang dibunuh di kamar gas kamp konsentrasi Auschwitz, dan sekarang dihadapkan pada kenyataan bahwa istri keduanya mandul.
Saya mengamati bahwa memberikan keturunan bukanlah satu-satunya makna, yang bila tidak terpenuhi akan membuat hidup tanpa makna, dan sesuatu yang dalam dirinya sendiri tidak dapat memberikan makna sekadar melanggengkannya. Bagaimanapun, rabbi itu memikirkan nasib buruknya sebagai seorang Jahudi ortodoks yang merasa putus asa karena tidak seorang pun anaknya yang akan memanggil Kaddish[1] padanya setelah ia meninggal.
Namun, saya tidak menyerah. Saya melakukan upaya terakhir dengan menyelidiki apakah ia tidak mengharapkan bertemu dengan anaknya di surga. Pertanyaan saya membuat air matanya mengalir, dan kini alasan sejati mengapa ia merasa putus asa jadi terkuak. Ia menjelaskan bahwa anak-anaknya yang mati karena martir, telah menemukan kenyamanan di tempat tertinggi di surga, sementara dirinya sendiri, sebagai orang tua yang penuh dosa, tidak yakin akan mencapai tempat yang sama. Saya berupaya menegaskan, “Bukankah dapat diterima, Rabbi, bahwa itulah makna bagi perjuanganmu terhadap anak-anakmu: bahwa Anda dapat disucikan melalui penderitaanmu sekian lama, hingga akhirnya, Anda juga, meskipun tidak polos seperti anak-anakmu tetapi menjadi layak bersama mereka di surga? Tidakkah ada tertulis di Psalm bahwa Tuhan mendengarkan semua ratapanmu? Sehingga tak satu pun penderitaanmu yang sia-sia.[2]” Untuk pertama kalinya sejak beberapa tahun, ia dapat melihat gambaran penderitaannya dengan cara pandang yang baru, pandangan yang saya singkapkan baginya.

KEFANAAN HIDUP

Hal-hal yang tampaknya mengambil makna dari hidup manusia bukan hanya penderitaan melainkan juga kematian. Saya tidak akan lelah mengatakan bahwa hanya aspek kefanaan hidup sebenarnya adalah potensialitas; namun segera setelah hal itu diaktualisasikan, mereka akan memberikan realitas pada momen yang tepat. Hal itu disimpan dan disampaikan ke masa lalu, di mana mereka diamankan dan diawetkan dari kefanaan. Dalam masa lalu, tidak ada kehilangan yang tak dapat dikembalikan, namun segala sesuatunya dapat dibatalkan.
Dengan demikian, kefanaan eksistensi kita sama sekali tidak membuat menjadi tak bermakna. Tetapi, hal itu menjadi pembentuk rasa tanggung jawab, untuk segala sendi dalam kepercayaan kita terhadap kemungkinan kefanaan yang esensial. Manusia secara  terus-menerus membuat pilihan yang didasarkan pada potensialitas kekinian, yang mana akan ditakdirkan menjadi ketiadaan dan yang mana akan teraktualisasi. Pilihan mana yang akan membuat aktualitas selama-lamanya, “jejak kaki di pasir waktu” yang abadi. Pada setiap momen,manusia mesti membuat keputusan, untuk menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk, yang akan menjadi monumen dalam eksistensinya.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan