LOGOTERAPI-15

Setelah beberapa saat, saya melanjutkan pertanyaan lain, kali ini saya tujukan pada keseluruhan kelompok. Pertanyaan ini tentang apakah seekor beruk yang digunakan untuk mengembangkan serum poliomyelitis dan dengan alasan itu ia disiksa, apakah ia dapat mengambil makna dari penderitaannya?
Seseorang dari kelompok itu menjawab, bahwa hal itu tentu saja tidak mungkin; dengan batasan intelijensinya, ia tidak akan dapat menjangkau dunia manusia, yakni satu-satunya dunia di mana makna dari penderitaan dapat dipahami. Kemudian saya lanjutkan dengan pertanyaan, “Bagaimana dengan manusia? Apakah Anda yakin bahwa dunia manusia adalah perhentian terakhir dari evolusi jagad raya? Tidak dapat diterima bila masih ada dimensi yang lain; dunia yang melampaui dunia manusia; dunia di mana pertanyaan tentang makna sesungguhnya penderitaan manusia akan menemukan jawabannya.
SUPER-MEANING
Makna dasar perlu melebihi dan melampaui batas intelijensi manusia; dalam logoterapi, konteks ini kita sebut super-meaning. Apa yang dibutuhkan manusia bukanlah seperti apa yang diajarkan oleh para filsuf eksistensial sebagai kemampuan bertahan pada kehidupan tak bermakna, melainkan menyadari kelemahannya untuk menggapai kebermaknaan yang tanpa syarat dalam bentuk rasional. Logos lebih dalam dari pada logika.
Seorang psikiater yang melampaui konsep super-meaning, cepat atau lambat akan dipermalukan oleh pasiennya, seperti saya sendiri dengan anak perempuan saya yang menanyakan, “Mengapa kita membicarakan kebaikan Tuhan?” ketika saya mengatakan padanya, “Beberapa minggu lalu, kamu menderita campak. Nanti, Tuhan yang baik akan mengirimkan kesembuhan penuh bagimu.” Bagaimanapun, gadis kecil itu tidak menentang. Dengan ketus ia membalas, “Baik, Papa. Namun, Papa jangan lupa bahwa sebelumnya ia telah mengirimkan saya penyakit cacar.”
Posted in PHILOSOPHY TODAY, tiologi KARAKTER and tagged , , .

Tinggalkan Balasan