LOGOTERAPI-14

Sebagai improvisasi, saya bergabung dengan diskusi dan bertanya pada wanita lain dalam kelompok itu. Saya menanyakan berapa usianya, yang ia jawab, “Tiga puluh.” Saya balas, “Bukan tiga puluh, melainkan delapan puluh dan Anda sedang berbaring di peti mati. Sekarang Anda melihat kehidupan Anda sebelumnya, kehidupan tanpa anak namun memiliki kesuksesan finansial dan berbagai prestasi sosial.” Kemudian saya mengundangnya untuk membayangkan apa yang akan ia rasakan pada situasi demikian. “Apa yang akan Anda pikirkan tentang itu? Apa yang akan Anda katakan kepada diri sendiri?” Saya akan mengutip apa yang ia katakan sebenarnya dalam rekaman selama sesi itu. “Oh, saya menikah dengan seorang pria kaya, saya punya kehidupan yang mudah dan penuh dengan kekayaan, dan saya menikmatinya. Saya main mata dengan laki-laki; saya menggoda mereka. Namun, sekarang saya berusia delapan puluh, dan saya tidak punya anak kandung. Melihat diri saya sebagai wanita tua, saya tidak bisa melihat apa gunanya semua yang saya raih. Sebenarnya, hidup saya telah gagal.”
Saya kemudian mengundang wanita yang anaknya cacat untuk melakukan hal yang sama, menoleh ke belakang sepanjang hidupnya. Inilah yang dikatakannya pada rekaman: “Saya berharap punya anak-anak, dan hal itu telah diberikan kepada saya. Seorang anakku meninggal, dan yang satu lagi, bagaimanapun, karena ia cacat, harus diserahkan ke yayasan bila saya tidak mampu merawatnya. Meskipun ia cacat dan tak berguna, ia adalah anakku. Karena itu saya membuat hidup yang lebih baik sebisa mungkin baginya, saya membuat keberadaan anak saya menjadi lebih baik.” Pada saat itu, ia menangis tersedu-sedu, kemudian ia lanjutkan, “Bagi saya sendiri, saya bisa melihat ke belakang kehidupan saya dengan penuh kedamaian, sebab saya dapat katakan bahwa hidup saya penuh makna, dan saya telah berusaha keras untuk memenuhinya. Saya telah melakukan yang terbaik dari saya—yang terbaik bagi anak saya. Hidup saya tidak gagal.” Melihat hidupnya dari situasi seolah-olah sedang berada di peti mati membuatnya tiba-tiba menyadari makna hidupnya, suatu makna yang bahkan meliputi semua penderitaannya. Dengan tanda yang sama,bagaimanapun, hal itu membuat jadi jelas, bahwa hidup yang sementara saja seperti itu, misalnya anaknya yang meninggal dalam usia muda, dapat menjadi kaya dalam bahagia dan cinta, mengandung makna lebih dari hidup selama delapan puluh tahun.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan