LOGOTERAPI-13

Saya belum mencatat bahwa jawaban terhadap pertanyaan yang saya pergumulkan dengan penuh gairah masih tersembunyi, dan segera sesudahnya jawaban itu diberikan kepada saya.
Hal itu terjadi ketika saya harus menyerahkan jaket saya dan digantikan dengan jaket usang yang diwariskan dari seorang tawanan yang sudah dikirim ke kamar gas segera setelah ia tiba di stasiun kereta Auschwitz. Bukannya beberapa lembar manuskrip saya, saya justru menemukan di jaket yang baru diberikan selembar sobekan dari kitab Ibrani, yang berisi doa Jahudi paling penting, Shema Yizrael.Bagaimana saya dapat memaknai kejadian yang ‘kebetulan’ itu sebagai sebuah peluang dalam hidup saya alih-alih sekadar sebuah catatan dalam kertas?
Sesaat kemudian, saya ingat, tampaknya bagi saya, saya akan meninggal dalam waktu dekat. Dalam situasi kritis ini, bagaimanapun, perhatian saya berbeda dengan kebanyakan teman saya. Pertanyaan mereka adalah, “Apakah kita bertahan hidup di dalam kamp? Seandainya tidak, semua penderitaan ini tidak memiliki makna.” Pertanyaan yang muncul kepada saya adalah, “Apakah semua penderitaan ini, kematian di sekitar kita, suatu makna? Seandainya tidak, sesungguhnya tidak ada makna dalam bertahan hidup; bagi hidup yang maknanya tergantung kebetulan—seperti apakah seseorang melarikan diri atau tidak—sesungguhnya tidak layak dijalani.

PROBLEM METAKLINIK

Semakin banyak psikiater pada saat ini didatangi oleh pasien yang membuatnya berhadapan dengan problem kehidupan dari pada simptom neurosis. Banyak orang yang sekarang memanggil psikiater akan melihat pastor, pendeta, dan rabbi pada saat sebelumnya. Mereka biasanya menolak ditangani oleh ulama dan lebih memilih menemui dokter dan bertanya, “Apa makna hidup saya?”

LOGODRAMA

Saya akan mengutip sebuah contoh berikut: Suatu saat, seorang ibu dari seorang anak yang meninggal pada usia sebelas tahun dirawat di rumah sakit saya setelah ia melakukan upaya bunuh diri. Dokter Kurt Kocourek mengundangnya untuk bergabung dengan terapi kelompok. Itu terjadi ketika saya melangkah ke ruangan di mana ia memimpin sebuah psikodrama. Saat itu ia sedang menceritakan kejadiannya. Pada saat anaknya meninggal, ia tinggal dengan seorang anaknya yang lain, yang lumpuh akibat menderita penyakit saat anak-anak. Anak malang itu harus bergerak dengan menggunakan kursi roda. Ibunya, kadang memberontak dengan nasibnya. Namun, ketika ibunya mencoba bunuh diri bersamanya, anaknya yang lumpuh itulah yang berhasil mencegahnya; Ia menyukai kehidupan. Baginya, kehidupan penuh makna. Mengapa tidak demikian dengan ibunya? Bagaimana agar hidupnya masih memiliki makna? Dan bagaimana kita bisa meyadarkannya tentang hal itu?
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , , .

Tinggalkan Balasan