LOGOTERAPI-12

Namun, saya akan membuatnya lebih sempurna, bahwa bukan berarti makna harus selalu membutuhkan penderitaan. Saya hanya menegaskan bahwa makna masih dapat ditemukan bahkan dalam penderitaan sekalipun—tentu, jika penderitaan tak terhindarkan. Bila hal itu dapat dihindarkan,kadang, sesuatu yang paling bermakna dilakukan akan menghilangkan penyebabnya, baik itu psikologis, biologis, dan politis. Menderita untuk hal yang tidak penting bukanlah tindakan heroik melainkan masokis.
Edith Weiskofp Joelson, professor psikologi di University of Georgia, dalam artikelnya tentang logoterapi berpendapat bahwa, “filosopi kesehatan mental kita sekarang menekankan ide bahwa manusia seharusnya menjadi bahagia, bahwa ketidakbahagiaan adalah simptom kegagalan penyesuaian. Beberapa sistem nilai mungkin bertanggung jawab terhadap fakta bahwa beban ketidakbahagiaan ditingkatkan oleh ketidakbahagiaan tentang menjadi tidak bahagia. Dalam tulisan lain, ia menyatakan harapannya bahwa logoterapi ‘dapat menangkal kecenderungan tidak sehat budaya kekinian di Amerika Serikat, di mana penderita yang tidak dapat disembuhkan diberikan kesempatan yang sangat kecil untuk bangga dengan penderitaannya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang memuliakan dari pada merendahkan. Akibatnya, ia tidak hanya merasa tidak bahagia tetapi juga merasa malu karena tidak bahagia.
Beberapa situasi yang menghambat seseorang untuk berkarya atau menikmati hidup, namun apa yang tidak boleh dikesampingkan adalah ketakterhindaran penderitaan itu. Dengan menerima tantangan untuk menderita dengan berani, hidup menjadi bermakna hingga momen terakhir, dan mempertahankannya hingga akhir. Dengan kata lain, makna hidup adalah sesuatu yang tanpa syarat, termasuk makna potensial penderitaan yang tak terhindarkan.
Mari kita bicarakan kembali pengalaman paling dalam yang saya dapatkan di kamp konsentrasi. Peluang untuk bertahan hidup di kamp tidak lebih dari satu banding dua puluh delapan, seperti yang dengan mudah diverifikasi berdasarkan data statistik. Bahkan tampak lebih tidak mungkin sesuai dengan peluang itu, bahwa manuskrip buku pertama saya yang saya sembunyikan di jaket saya ketika sampai di Kamp Auschwitz, akan dapat diselamatkan. Sehingga, saya harus melalui dan mengatasi kehilangan mental kekanak-kanakan saya. Kini, hal itu tampak seolah-olah tidak ada dan tak seorang pun dapat menyelamatkan saya, juga bukan mental dan fisik kekanak-kanakan saya. Lalu saya menemukan diri saya dihadapkan pada pertanyaan, ketika lingkungan kehidupan saya mengalami kehampaan makna.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan