LOGOTERAPI-11

Cara ketiga menemukan makna dalam kehidupan adalah melalui penderitaan.

Makna Penderitaan

Kita seharunya tidak melupakan bahwa kita mungkin juga menemukan makna bahkan dalam situasi ketika kita dihadapkan pada situasi tanpa pengharapan, ketika menghadapi takdir nyang tidak bisa diubah. Dari apa yang kemudian terjadi adalah keberanian bersaksi tentang keunikan potensi manusia pada bentuk terbaiknya, yang mengubah  kesedihan menjadi kejayaan, mengubah kesulitan menjadi pencapaian. Ketika kita mulai memiliki kemampuan untuk mengubah situasi—hanya berpikir bahwa penyakit yang tidak bisa disembuhkan sebagai kanker yang bisa dioperasi—kita ditantang untuk mengubah diri kita.

Biarlah saya mengutip satu contoh yang jelas: Suatu ketika, seorang praktisi umum yang sudah lansia berkonsultasi dengan saya akibat ia mengalami depresi menahun. Ia tidak dapat menghadapi kehilangan istrinya yang meninggal dua tahun yang lalu, seorang yang ia cintai di atas segalanya.

Lalu,bagaimana saya menolongnya? Apa yang harus saya katakan padanya? Baik, saya menahan diri untuk mengatakan sesuatu, melainkan mencoba bertanya padanya, “Apa yang akan terjadi Dokter, jika Anda yang duluan meninggal dan istri Anda selalu memikirkan Anda?” “Oh, hal itu sangat mengerikan. Saya tidak ingin dia menderita.” Katanya. Lalu saya membalas,“Anda lihat, Dokter. Penderitaan yang sama akan membebaskannya, dan Andalah yang bisa menghilangkan penderitaannya—tentu saja, persis sama dengan keadaan sekarang di mana Anda selalu memikirkan dan meratapinya. Ia tidak berkata apa-apa tetapi menyalami saya dan dengan santai meninggalkan kantor saya.  Dalam beberapa cara, penderitaan berhenti menjadi penderitaan ketika ia menemukan makna, misalnya makna penderitaan.

Tentu, tidak akan ada terapi yang tepat bila, pertama, rasa putus asanya tidak membuatnya sakit, dan kedua, saya tidak dapat mengubah nasibnya, membuat istrinya hidup kembali. Namun, pada saat itu, saya berhasil mengubah sikapnya terhadap nasibnya yang tak dapat diubah sebab sejak saat itu paling tidak ia mau melihat makna dalam penderitaannya. Itulah salah satu prinsip dasar logoterapi, bahwa hasrat utama orang bukanlah mencari kenikmatan atau menghindari penderitaan, melainkan menemukan makna dalam hidupnya. Hal itulah yang membuat seseorang bahkan rela menderita, bila penderitaannya memiliki makna.

Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan