LOGOTERAPI-1

 LOGOTERAPI RINGKAS
Pembaca kisah otobiografi singkat saya biasanya meminta penjelasan langsung yang lebih lengkap. Sehubungan dengan itu, saya menambahkan bagian ringkas logoterapi dalam edisi asli From Death-Camp to Existensialism. Namun, hal itu tidak cukup, dan saya diserbu oleh banyak permintaan untuk penjelasan lebih luas. Oleh sebab itu, pada edisi ini, saya menulis ulang lebih lengkap dan berupaya memperluas catatan saya.
Upaya itu bukan sesuatu yang mudah. Menyampaikan kepada pembaca dalam ruang terbatas apa yang dalam bahasa Jerman membutuhkan dua puluh jilid adalah tugas yang hampir mustahil. Saya teringat dengan seorang dokter Amerika yang pernah datang ke kantor saya dan bertanya,”Dokter, apakah Anda seorang psikoanalis?” yang saya jawab,”Bukan psikoanalis, persisnya adalah psikoterapis.” Ia melanjutkan pertanyaannya, ”Apa aliran Anda?” dan saya jawab, ”Ini teori saya sendiri, namanya logoterapi.” Dapatkah Anda menjelaskan dalam satu kalimat apa maksudnya logoterapi?” Tanya dokter itu. “Lebih lanjut apa bedanya psikoanalisis dan logoterapi? “Ya.” Jawab saya. “Namun sebelumnya, dapatkah Anda jelaskan kepada saya dalam satu kalimat tentang psikoanalisis?” Ia menjawab seperti ini: “Sepanjang psikoanalisis, seorang pasien harus berbaring di ranjang dan menceritakan sesuatu kepada Anda bahkan sesuatu yang tidak menyenangkan untuk diceritakan.” Saya membalas dengan improvisasi berikut: “Sekarang, dalam logoterapi, pasien bisa duduk tegak namun harus bersedia mendengar bahkan yang tidak menyenangkan untuk didengar.”
Tentu hal itu adalah semacam kelakar dan bukan merupakan versi kapsul logoterapi. Ada sesuatu di dalamnya, yang sepanjang logoterapi, dalam perbandingannya dengan psikoanalilis, adalah metode yang kurang retropeksi dan kurang intropeksi. Logoterapi lebih berfokus pada masa depan, yang berarti bahwa makna akan dipenuhi oleh pasien dalam masa depannya (Logoterapi memang adalah psikoterapi yang berpusat pada makna). Pada saat yang sama, logoterapi tidak berfokus pada semua pembentukan lingkaran setan dan mekanisme umpan balik yang memainkan peran yang sangat besar pada perkembangan neurosis. Dengan demikian, jenis neurosis yang berpusat pada diri sendiri diputus alih-alih dipelihara dan diperkuat.
Tentu, jenis pernyataan ini adalah penyederhanaan yang berlebihan. Senyatanya, pasien dalam logoterapi dikonfrontasikan dan diorientasikan kembali dengan makna hidupnya. Dan membuatnya menyadari makna itu akan berkontribusi besar terhadap kemampuannya untuk menghadapi neurosisnya.
Ijinkan saya untuk menjelaskan mengapa saya memilih nama “logoterapi” sebagai nama untuk teori saya. Logos dalam bahasa Yunani berarti “makna”.  Logoterapi, atau seperti yang disebut beberapa penulis sebagai aliran ketiga psikoterapi Wina, berfokus pada makna eksistensi manusia sekaligus pada pencarian manusia terhadap makna.Menurut Logoterapi, upaya menemukan makna dalam kehidupan seseorang merupakan kekuatan penggerak utama pada manusia.Oleh sebab itulah, saya menyebutkan kehendak terhadap makna alih-alih prinsip kenikmatan (atau yang biasanya kita sebut hasrat terhadap kenikmatan yang merupakan pusat psikoanalisis Freudian dan juga berlawanan dengan hasrat terhadap kekuasaan dengan istilah kehendak superioritas, yang merupakan pusat psikologi Adlerian.
Posted in PHILOSOPHY TODAY.

Tinggalkan Balasan