ARUS PENYESATAN

ARUS PENYESATAN


tio-1Tiopan Parasian LG*

“TV ini kerjanya hanya mempromosikan “X” dan menjelek-jelekkan “Y”, ganti aja Pak!” ujar anak gadis saya yang baru duduk di bangku SMP merujuk pada pemberitaan salah satu televisi swasta tentang calon presiden dan wakil presiden yang sedang ramai-ramainya. Pernyataan itu sontak membuat saya terhenyak. Keterhenyakan saya terutama disebabkan oleh pikiran “under estimate” saya terhadap anak gadis saya, yang saya anggap belum mengerti apa-apa, tetapi ternyata memiliki kesadaran yang melampaui usianya sendiri.

PRODUKSI CITRA

Reflektif saya berpikir, agaknya sikap under estimate saya terhadap anak gadis saya mewakili sisi hitam sikap dan cara pandang kapitalisme terhadap manusia, cara pandang pengusaha terhadap rakyat, cara pandang penjual terhadap pembeli. Manusia hanya sekadar simbol untuk angka yang harus dikejar demi kepentingan ekonomi, demi keuntungan. Di mana ada manusia, di situ ada keuntungan ekonomi. Masalah apakah manusia akan menjadi lebih baik atau lebih buruk bukan urusan. Basis perhitungan yang menyelinap dalam pilihan tindakan adalah maksimalisasi keuntungan.

Bagaimana cara mereka mengolah gerombolan manusia menjadi keuntungan? Para pemilik modal mempercayakan kepada ahli strategi yang memahami betul psikologi manusia. Kekuasaan media memengaruhi dan membentuk opini publik saat ini menjadi pilihan strategi promosi yang mumpuni. Propaganda tentang produk dilakukan dengan memproduksi narasi dan citra tentang produk secara masif. Jargon yang paling terkenal dari model pemasaran ini adalah “Kebohongan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi suatu kebenaran”. Dalam alur berpikir seperti itu, etika bukanlah permasalahan penting. Semua produk harus menjadi ‘kecap nomor satu’.

Tampaknya, strategi menjual seperti itulah yang merasuki ‘penjualan’ capres di media elektronik seperti yang dikeluhkan anak gadis saya.

 ARUS PENYESATAN

Invasi kapitalisme yang menyusup melalui media massa dengan memproduksi secara besar-besaran pencitraan hingga melampaui realitas (hiperrealitas) dan menyatukan serta mengaburkan batas-batas antara kepalsuan dengan keaslian, kebohongan dengan kebenaran, fakta dengan rekayasa. Maka jadilah apa yang disebut dalam bahasa gaul sebagai settingan. Artis yang tidak laku disetting sedemikian, misalnya diberitakan menjalin hubungan dengan artis tenar atau menjalin perselingkuhan palsu,  demi mendongkrak popularitas. Popularitas yang dibeli itu selanjutnya dijual untuk mendapatkan uang. Persis pada titik itulah tumbuh benih-benih penyesatan.

Tidak hanya melakukan pembohongan verbal, penyesatan direkayasa sedemikian dengan meminjam pengaruh pesohor yang dikemas menjadi iklan. Publik diserbu dengan beragam iklan dengan anjuran, rayuan, dan bujukan bintang iklan untuk memakai, menggunakan, atau mengonsumsi produk tertentu. Sayangnya, tak banyak yang sadar bahwa sang bintang sendiri tidak menggunakan produk yang diiklankannya.

Penyesatan dalam bentuk penciptaan kebenaran-kebenaran semu secara tersamar semakin marak terjadi di dunia politik terkini. Tetap maraknya korupsi di saat bersamaan hampir semua lembaga mengiklankan perang terhadap korupsi. Masifnya pembocoran soal dan jawaban Ujian Nasional (UN) sementara di saat bersamaan muncul pejabat berkepentingan mengiklankan kesuksesan pelaksanaan Ujian Nasional dan menyebutnya salah satu cara membangun karakter. Politik uang yang bebas dilakukan sebebas berbelanja di pasar di saat yang bersamaan iklan tentang kemajuan demokrasi dan kebanggaan sebagai negara demokrasi terbesar, melemahnya ekonomi rakyat di saat yang sama di mana iklan tentang pertumbuhan ekonomi yang terusa meningkat memberikan kontribusi besar terhadap semakin kaburnya jarak antara kebohongan dengan kebenaran.

Penyesatan simbolik yang kerap tersamar dan mengemasnya dalam pernyataan terfragmentasi membuatnya sulit dikenal dan disadari, bahkan mungkin saja diamini. Ambil contoh, seorang tokoh berbicara di layar kaca dan mengatakan bahwa ditangkap dan diculik adalah risiko seseorang berpolitik. “Yang takut ditangkap jangan berpolitik!” lanjut tokoh itu. Pernyataan yang sepintas hanya menggambarkan heroisme sang tokoh dan mungkin saja mengundang simpati publik akan kepahlawanannya. Namun, bila ditelaah lebih jauh, ucapan tersebut sangat mungkin disengaja sebagai iklan tersamar yang boleh saja dipesan oleh pihak tertentu untuk tujuan tertentu. Dengan menggunakan akal sehat dalam kerangka etika politik, pernyataan sang tokoh tersebut adalah bentuk-bentuk penyesatan opini yang harus ditolak. Seseorang memang harus memiliki keberanian, namun apapun alasannya, apapun tujuannya, tindakan politik yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan tidak dapat dibenarkan.

Contoh lain ‘iklan’ dari pesohor yang tak kalah menyesatkan adalah: “Saya kira semua lelaki jantan akan memilih X (nama salah satu kontestan pilpres).”  Pernyataan yang ditujukan untuk mempromosikan salah satu pasangan dan tersamar dalam popularitas tokoh itu sangat mungkin tidak disadari pendengar, namun sesungguhnya sangat menyesatkan. Penyesatannya terletak pada bujukan tersamar kepada publik untuk menyamakan pemilihan presiden dengan kontes idola model layar kaca yang pemilihan atas seseorang pemenang bisa saja hanya didasarkan pada tampilan fisik sang kontestan. Pemilihan presiden sesungguhnya memiliki makna jauh lebih besar dan menyangkut masa depan negara, yang seharusnya didasarkan pada objektivitas yang merujuk pada dimensi kecerdasan emosi calon untuk memahami rakyatnya serta memiliki komitmen untuk memberdayakan rakyatnya.

Keyakinan terhadap ampuhnya pembentukan opini lewat pencitraan bergerak hingga dunia maya. Tentu tidak hanya untuk membuang-buang energi bila kontestan yang bertarung dalam pilpres 2014 bahkan harus membentuk pasukan cyber. Pasukan yang bergerak di dunia maya ini berjuang mati-matian memproduksi narasi-narasi kecil tetapi memiliki daya menyesatkan yang dahsyat. Apakah nama yang layak bagi narasi yang mereka produksi bahwa salah seorang calon presiden memiliki Inteligensi Quotien (IQ) yang sangat tinggi dan yang lain rendah? Bukankah kekacauan negara ini disebabkan banyaknya pemimpin ber-IQ tinggi tetapi tidak memiliki kecerdasan emosi dan kecerdasan spritual? Google, salah satu perusahaan terbesar dunia mengatakan bahwa mereka tidak mau merekrut karyawan yang memiliki kecerdasan akademik luar biasa dengan alasan yang sangat mendasar, mereka umumnya tidak memiliki kemauan untuk menerima gagasan orang lain, mereka tidak memiliki kerendahan hati.

RAKYAT (PEMBELI) BERKARAKTER

Ciri khas karakter adalah kesederhanaan, yang berpijak pada kesadaran dan kenyamanan untuk menampilkan diri sendiri apa adanya, tanpa melebih-lebihkan diri menjadi rupa orang lain. Produksi pencitraan secara besar-besaran berpotensi menjadi penyesatan yang mendorong jiwa manusia keluar dari dirinya sendiri adalah musuh utama pembentukan karakter.

Apakah pencitraan dan penyesatan selalu sukses mendulang keberhasilan? Sejarah telah membuktikannya pada pemilu April lalu bahwa pemenangnya bukanlah pemilik media yang bebas melakukan pencitraan. Namun, dalam konteks pemilihan presiden bahaya laten pencitraan dengan kekuatan yang sangat masif tetaplah wajib diwaspadai. Pencitraan besar-besaran membuat penyesatan karakter berlangsung sedemikian rupa tanpa disadari, namun ternyata pengaruhnya sudah terlanjur besar. Pengaruh penyesatan yang tidak serta-merta dapat dirasakan membuat kita jarang menyadarinya, namun internalisasi penyesatan itu berlangsung secara laten menggerus karakter kita. Dibutuhkan pembeli berkarakter untuk membeli apa yang layak dan tidak layak dibeli. Dibutuhkan rakyat berkarakter untuk memahami masifnya arus penyesatan yang sedang berlangsung dan memilih siapa yang layak dan tidak layak dipilih.

Rakyat berkarakter menjadi pembeli berkarakter. Rakyat berkarakter memahami dan menggunakan haknya. Untuk memenuhi hak anak gadis saya, saya pun mengganti siaran TV yang tadi. Salam KARAKTER!*****

 


* Penulis adalah Sekjen Lembaga Investigasi Tindak Pidana Korupsi (LI-TPK) , Direktur Eksekutif MoFS Indonesia Character School,  dan mahasiswa program S3 Filsafat Universitas Indonesia

 

Posted in OPINI and tagged , .