ARTIKEL

FLORENCE YANG MALANG

foto-2

Oleh: Tiopan Parasian LG

“Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal Jogja.

Berawal dari postingan yang katanya seperti kalimat di atas di salah satu media sosial dengan pemilik akun bernama Florence , lalu entah siapa yang meng”capture” dan menyebarkan postingan itu, hanya dalam tempo singkat dunia maya segera heboh membahas postingan itu, lalu segera pula menular ke dunia nyata.

Bahwa postingan itu tidak etis, tidak perlu diperdebatkan lagi. Bahwa postingan itu melukai hati banyak orang, bisa dimaklumi. Bahwa postingan itu membuat Florence dibully habis-habisan dan sepi dari pembelaan, itu risikonya. Bahwa postingan itu tidak berkarakter, YA!

Sayangnya beberapa pihak menganggap bahwa hukuman sosial buat seorang Florence tidak cukup. Pihak yang merasa terhina dengan postingan itu melaporkan Florence ke polisi. Polda DIY segera merespons dengan memeriksa Florence. Tragisnya, Polda DIY menahan Florence dengan alasan tidak kooperatif, dikhawatirkan menghilangkan barang bukti, kabur, dan mengulangi tindakan yang sama (Berita terakhir Florence sudah diberikan penangguhan  penahanan  tetapi kasus  hukumnya tetap dilanjutkan).

Tindakan pelapor dan respons yang sangat cepat dari Polda DIY menggugah nalar kita untuk bertanya, kejahatan macamapakah yang dilakukan seorang Florence sehingga ia layak diperlakukan bagai seorang teroris? Apakah Florence lebih berbahaya dibanding banyak tersangka megakorupsi yang dibiarkan bebas melenggang bahkan di panggung-panggung yang disediakan oleh negara? Apakah Florence tampak memiliki niat yang lebih jahat dari orang yang sengaja mencetak tabloid untuk menyebarkan opini negatif terhadap Jokowi?

 Fakta dan Opini

Hukum memerlukan pembuktian. Oleh sebab itu, hukum harus bersifat positifistik dan berbicara tentang fakta, bukan penafsiran golongan tertentu. Dengan ciri demikian, kita bisa simpulkan bahwa hukum yang baik hanya boleh mengadili persoalan yang berada di wilayah fakta, kecuali hukum hanya ditujukan untuk mengabdi pada kepentingan kekuasaan.

Terkait dengan itu, suatu pernyataan dapat digolongkan menjadi opini atau fakta. Opini adalah pendapat, ide atau pikiran untuk menjelaskan kecenderungan atau preferensi tertentu terhadap suatu perspektif. Opini bersifat subjektif dan tidak dapat diverifikasi. Atribut yang disematkan pada opini adalah atribut kualitatif, misalnya manis, indah, cerdas, dsb. Bila Anda mengatakan bahwa saya jelek, tolol, dan tak beradab, pernyataan Anda tidak akan bisa diverifikasi, dan oleh sebabitu pernyataan itu adalah opini.

Di sisi lain fakta adalah adalah sesuatu yang dapat diverifikasi. Jika Anda mengatakan bahwa saya koruptor, pencuri, penipu, atau saya melakukan poligami, hal itu dapat diverifikasi kebenarannya berdasarkan fakta. Jika apa yang Anda katakan mengenai saya, setelah diverifikasi terbukti tidak sesuai fakta, Anda bisa saya tuduh telah melakukan penghinaan atau fitnah.

Dengan demikian, jelas sudah bahwa postingan Florence hanyalah  opini, yang sejatinya berada di wilayah etika, bukan di ranah hukum positif (pidana).

Dalil Hukum Yang Lemah

Hukum mengenal asas persamaan. Oleh sebab itu kita mencoba melihat Florence sebagai Florence dan menanggalkan atribut yang disandangnya, apakah ia seorang mahasiswa S2 atau apakah ia berasal dari Sumatera Utara. Kita nilai saja Florence sebagai Florence, seorang Warga Negara Indonesia yang dilindungi oleh negara menurut Undang-Undang Dasar 1945.

Polda DIY menjerat Florence dengan UU ITE, Pasal 27 ayat(3) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik, serta  pasal  28  ayat(2)  Setiap  orang  dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras,dan antar golongan (SARA).

Ganjaran untuk perbuatan itu dalam UU ITE dinyatakan dalam Pasal 45: Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasal 27 ayat (3) dan pasal 28 ayat (2) diawali dengan kalimat “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak”. Apakah Florence tidak memiliki hak untuk beropini?

Kebebasan beropini adalah ciri negara demokratis. Di Indonesia, kebebasan itu digolongkan sebagai hak asasi dan dijamin oleh Undang-undang. Pasal 28 E ayat (3) UUD 1945 menyatakan: Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Dengan berpijak pada UUD 1945, terang sudah bahwa Florence memiliki hak untuk beropini, baik melalui ucapan maupun tulisan.

 Konteks

Oleh karena ‘penghinaan’ yang dilakukan oleh Florence dilakukan di dunia maya, bukan di dunia nyata, kita wajib menelaah konteks postingan Florence serta mensejajarkan hukum dunia maya dengan dunia nyata.

Terkait dengan itu, ada tiga latar yang perlu ditelaah. Pertama, latar property. Bila dunia maya disejajarkan dengan dunia nyata, akun adalah milik pribadi (privat property) sementara teman-teman dalam media sosial mewakili relasi ekslusif, yang dalam dunia nyata adalah keluarga atau teman-teman. Melalui analogi ini, seseorang yang masuk ke akun orang lain dan mengambil (meng’capture’ atau meng’copy’) sesuatu, sesungguhnya seseorang itu telah melakukan tindak pidana pencurian.

Kedua, latar motif. Seseorang melakukan pencurian tentu berlatar berbagai motif. Ada yang sekadar tertarik untuk memiliki, ada yang berniat memprovokasi orang lain. Niat itu bisa kita lihat dengan tindakan yang dilakukan berikutnya, apakah hanya menyimpan untuk diri sendiri atau justru menyebarkannya ke publik. Terkait postingan   Florence jelas-jelas tampak motif orang yang menyebarkan postingan itu. Penyebar postingan memiliki agenda tertentu yang tujuannya berdampak pada terjadinya multiflyer effect dari makna awal postingan Florence. Analoginya seperti ini, bila saya mengatakan di keluarga saya atau ke teman-teman saya bahwa si A jelek, lalu ada seseorang yang sengaja menyampaikan kepada orang lain atau ke pada si A bahwa saya mengatakan demikian, jelas bahwa niat si B lebih jahat dari niat saya.

Ketiga, latar psikologis. Telah banyak diungkap bahwa latar postingan Florence adalah ketika Florence ikut dalam antrean BBM yang sangat panjang di salah satu pom bensin. Antrean yang sangat panjang membuat Florence berontak dan mencoba menerobos ke jalur mobil dan ternyata ditolak oleh petugas pom bensin. Latar belakang itulah yang membuat Florence, seorang gadis belia yang masih belum cukup bijaksana,  kecewa. Kekecewaan yang bersumber dari pikiran kritis seorang mahasiswa terhadap negara kaya minyak dan sudah berusia 69 tahun ini namun harus mengantre panjang hanya untuk mendapatkan BBM (Jokowi sendiri prihatin dengan fakta ini, bagaimana sebuah negara kaya minyak tapi masyarakatnya harus antre untuk mendapatkan BBM-Kompas.com, 1 September 2014). Dengan konteks demikian, bagi saya sendiri, postingan Florence tak lebih dari rungutan anak kecil saya yang mengatakan, “Papa jelek, Papa jahat, Papa bodoh” ketika ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Ucapan yang sama sekali tidak layak diganjar dengan hukuman, melainkan rangkulan dan didikan.

Dengan memahami relasi fakta dan opini serta hubungannya dengan dalil-dalil hukum yang melingkupinya, serta menempatkan konteks peristiwa pada posisi yang benar, menempatkan postingan Florence ke dalam ruang hukum pidana apalagi menahannya, jelas adalah sesuatu yang dipaksakan dan berlebihan.

Bila polisi tetap memidanakan Florence, tindakan itu lebih cenderung pembenaran dari apa yang pernah dikatakan oleh Trasymachus bahwa etika adalah masalah suka dan tidak suka, yang keputusannya tidak dapat ditentukan melalui nalar, melainkan harus melalui pemaksakan secara terang-terangan, maupun secara tersamar.*****

Penulis adalah Sekretaris Jenderal Lembaga Investigasi Tindak Pidana Korupsi Aparatur Negara Republik Indonesia (LI-TPK) dan praktisi pendidikan KARAKTER.

Catatan Tambahan:

  1. Sebagian besar gagasan dalam tulisan ini dibuat sebelum penangguhan penahanan Florence
  2. Belakangan pasal yang dituduhkan termasuk Pasa 310 KUHP dan pasal 311 KUHP

Posted in OPINI and tagged .