IMPIAN

Oleh: Ir. Tiopan Parasian LG, M.M.*

Sebagai mahkluk paling sempurna dan sekaligus misterius yang tidak pernah habis-habisnya diulas, beragam sebutan bagi manusia yang disematkan untuk membedakan manusia dari mahkluk lainnya baik secara fisik maupun mental. Dari ‘manusia sebagai makhluk yang berpikir’ (animal rationale), animal symbolicum, homo faber, homo volens, homo mensura, homo educandum, dan masih banyak lagi. Semua itu merujuk pada keunggulan manusia atas makhluk lainnya. Fakta bahwa manusia berpikir sungguh tidak perlu diperdebatkan lagi. Manusia berpikir untuk tahu realitas, yang diperlukan dalam mengambil sikap dan tindakan terhadap realitas tersebut (diam, tertarik, tidak tertarik, terhibur, kecewa, dsb).

Pemimpi

Realitas tidak selalu mudah bagi manusia. Dengan demikian, manusia berusaha untuk berlari dari realitas. Jadilah manusia sebagai makhluk pemimpi. Dalam impian, manusia berlari melampaui tembok-tembok realitas yang dijumpai dalam dunia nyata. Dalam impiannya, manusia memiliki kebebasan mutlak untuk membangun proyeksi dirinya (bahkan komunitasnya), bukan saja menuju titik ideal, melainkan cenderung melambung tinggi hingga mencapai sudut-sudut yang utopis sekalipun. Dalam impian, manusia berani memimpikan hal-hal terindah dan terbaik bagi kehidupannya dan kehidupan orang-orang yang dicintai. Kegersangan dalam realitas terobati dalam impian. Hidup menjadi indah. Mendengar kata ‘impian’ saja sudah terbayang sesuatu yang indah, wah, dan hal-hal yang membawa dampak kebahagiaan. Impian membuat seseorang lebih bersabar mengikuti perputaran waktu. Hampir semua gerak hidup manusia dihiasi dengan impian, tentu saja, termasuk rencana reshufle kabinet yang sedang ramai dibicarakan, mengandung impian kabinet yang bekerja lebih baik dari sebelumnya.

Meskipun sebenarnya memiliki kualitas yang berbeda, dalam percakapan sehari-hari, impian, harapan, angan-angan, cita-cita, adalah kata-kata yang memiliki definisi yang hampir mirip dan sering dipertukarkan satu sama lain. Perbedaan kualitasnya ada dalam hal fokus dan usaha pencapaian. Impian berada pada kualitas tertinggi dan angan-angan berada pada level terendah. Impian itu adalah sesuatu yang sangat kita inginkan dan usahakan agar dapat terealisasi dalam dunia nyata. Napoleon Hill, pembicara kelas dunia dan penulis buku-buku motivasi terkenal, mendefinisikan impian dengan, sebagai cetak biru (blue print) prestasi manusia.Sejarah mencatat bahwa impian mendorong penemuan-penemuan penting dalam sejarah manusia. Sebut saja, penemuan pesawat terbang misalnya, yang diawali oleh impian Wright bersaudara bisa terbang di udara, bagai burung.

Impian adalah peta perjalanan. Untuk memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupan ini, kita perlu memiliki impian. Tanpa impian, kehidupan akan berjalan tanpa arah dan tidak terkendali.

Negara Impian

Selain sebagai individu pemimpi, dalam realitas kita menyadari bahwa diri kita juga adalah sebagai warga suatu negara. Konsekuensinya, kita pasti memiliki impian untuk suatu negara. Negara impian. Negara impian adalah suatu negara yang dijalankan oleh pemerintah yang bijaksana, sehingga tiap-tiap warga negara mendapatkan dua poin penting dalam kehidupan: keadilan dan kesejahteraan. Kita memiliki impian untuk hidup lebih baik, lebih sejahtera, mendapat kemudahan untuk menjalani roda kehidupan dan memiliki impian melihat keadilan diperagakan dalam penanganan setiap kasus-kasus hukum yang menyangkut warga negara. Ringkasnya, kita memiliki impian hadirnya suatu negara impian, negara yang mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakatnya, negara yang mampu memelihara impian masyarakatnya.

Celakanya, sebagai bangsa, impian kita lebih sering berujung pada kekecewaan dan ketidakpuasan. Krisis multidimensi yang terus mendera membuat sebagian orang pesimis akan masa depan Indonesia. Seribu satu masalah datang silih berganti tiada henti. Penyelesaian masalah korupsi, konflik kepentingan, penyalahgunaan wewenang oleh pejabat negara masih belum menunjukkan titik terang. Upaya berbagai pihak untuk memperbaiki kondisi masih menemui jalan buntu. Pergantian pucuk kepemimpinan juga tidak banyak membantu. Beberapa akademisi menyebut Indonesia sebagai failed state. Kesejahteraan yang diidam-idamkan sejak masa awal kemerdekaan, hanya menjadi angan-angan sekaligus utopia.  Penanganan yang buruk dari pemerintah lebih sering menghadirkan kekecewaan daripada kepuasan. Tidak perlu berpikir panjang untuk mencari contoh tentang buruknya penanganan hukum kita. Dari kasus pembunuhan Munir, Bank Century, kasus Antasari Azhar, Gayus Tambunan, kasus cek perjalanan BI, dan kasus teranyar yang melibatkan petinggi Partai Demokrat Moh. Nazarudin, serta banyak kasus besar lainnya, tidak pernah menunjukkan penyelesaian yang memuaskan dahaga akan keadilan. Dalam penangan kasus pembunuhan pegiat HAM; Munir, kita dipertontonkan proses yang berbelit-belit dalam tidak jelas arahnya, yang menunjukkan sulitnya menjangkau keadilan bagi seluruh warga. Negara terkesan melindungi ‘orang kuat’ yang mendalangi pembunuhan Munir. Dalam kasus Bank Century, orang tidak akan lupa karena proses pembeberannya di DPR-RI diungkap begitu gamblang. Namun, kemudian rakyat merasa kecewa, karena rekomendasi wakil rakyat di DPR-RI agar kasus hukum Bank Century dilanjutkan ke meja peradilan tak kunjung tiba. Karena memang tidak ada political will dari pemerintah. Dalam kasus Antasari Azhar, kita juga disuguhi tontonan peradilan yang penuh dengan  logika awam yang aneh dan tidak masuk akal. Kondisi yang hampir sama, terjadi pula pada hampir semua sendi kehidupan bernegara kita. Kita kehilangan gairah untuk memiliki impian, kecuali impian ngawur semisal impian ‘Andai Aku Menjadi Gayus’ yang sempat menjadi hits.

Lenyapnya impian bisa membawa dampak yang sangat buruk. Selain menimbulkan pesimisme, lenyapnya impian bisa menimbulkan sikap anarki bagi pemilik impian. Contoh sederhana dampak yang terjadi akibat lenyapnya impian, bisa kita saksikan ketika impian kita untuk menjadi salah satu negara peserta putaran final Piala Dunia 2014, kandas, ketika tim nasional kita menderita kekalahan dalam tiga laga pra kualifikasi Piala Dunia yang sudah dilakoni, melawan Iran dengan kekalahan 0-3, Bahrain 0-2, dan Qatar (2-3). Ketika tim nasional menjamu Bahrain di kandang sendiri, Stadion GBK Senayan, puluhan ribu pendukung yang berbondong-bondong datang ke stadion itu untuk memberikan tambahan energi bagi pemain timnas, kecewa menyaksikan tim asuhan pelatih asal Belanda itu tidak berdaya menghadapi lawan. Jangankan untuk lolos ke putaran final Piala Dunia di Brasil, impian untuk lolos ke putaran berikutnya saja sudah hampir tertutup. Lenyapnya impian itu mengakibatkan suporter menjadi anarkis. Bahkan untuk beberapa saat, pertandingan terpaksa dihentikan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan akibat situasi yang mencekam di stadion dengan dibunyikannya petasan sebagai simbol lenyapnya impian. Untung saja, kekecewaan penonton masih bisa diredakan hingga pertandingan bisa dilanjutkan hingga selesai.

Memelihara Impian

Demokrasi memberikan ruang untuk tumbuhnya impian. Alam demokrasi yang masih dalam tahap pertumbuhan di Indonesia potensial untuk melenyapkan impian warga. Impian yang ditaburkan melalui janji-janji kampanye para calon penguasa yang bertarung dalam pemilihan demokratis cenderung hanya impian-impian kosong.

Hilangnya impian atau hilangnya gairah untuk bermimpi, risikonya amat mengerikan. Lenyapnya impian warga negara Mesir dan beberapa negara di Afrika dan Timur tengah belakangan ini mendorong mereka memaksa pemimpinnya mundur dari kekuasaanya. Dalam kasus pemilukada di tanah air, lenyapnya impian masyarakat membuat mereka tidak lagi memilih kepala daerah yang tidak mampu memelihara impian rakyatnya.

Bercermin dari dampak yang terjadi akibat lenyapnya sebuah impian, pemimpin yang bijaksana harus melakukan segala upaya untuk memelihara impian warganya dengan meningkatkan kinerja aparatnya ke arah peningkatan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya. Bila tidak, rakyat memiliki kebebasan untuk mengubah impiannya. Salah satunya, ya mengubah impiannya tentang pemimpin impiannya, dengan tidak memilihnya. Mungkin saja, ini hanya ‘impian’.

* Penulis adalah mahasiswa S-3 Filsafat UI dan pendiri IndEC

Posted in OPINI and tagged .

Tinggalkan Balasan