ADMETUS DAN ALCETIS

ADMETUS DAN ALCESTIS

Di sebuah kota kecil di Utara Delphi, tidak begitu jauh dari laut, hiduplah seorang pemuda bernama Admetus. Dia adalah penguasa di kota itu. Namun, daerah kerajaannya tidak begitu luas. Ia bisa mengelilinginya hanya dalam waktu setengah hari. Dia mengenal dan tahu nama setiap orang di kota itu. Setiap orang di kota itu menyukai dan menghormati Admetus karena kebaikannya, meskipun ia  seorang raja.

Suatu hari, Ketika hujan deras dan hujan salju berhembus dari pegunungan, seorang pengemis datang ke rumahnya. Lelaki itu tampaknya kotor, jorok, dan kelaparan, dan Admetus tahu bahwa ia pastilah datang dari daerah lain, sebab di negerinya sendiri, tak seorang pun yang mengalami kelaparan. Sang raja menyuruhnya masuk dan memberinya makan; setelah ia mandi, admetus memberinya baju hangat, dan menyuruh pelayan untuk menyediakan tempat baginya untuk tidur sepanjang malam.

Pagi-pagi, Admetus bertanya pada pengemis untuk mengetahui nama dan asal-usulnya, namun ia hanya memegang keningnya dan tak menjawab. Lalu Admetus menanyakan tempat tinggal dan negara asalnya, lelaki itu berkata: “Jadikanlah aku budakmu, tuan! Jadikanlah aku budakmu dan ijinkan aku melayanimu selamanya.” 

Admetus sebenarnya tidak membutuhkan pelayan tambahan. Tetapi ia melihat bahwa budak paling miskinpun di daerahnya masih lebih baik dari pengemis itu. Ia berkata dengan kasihan, “Saya akan mengabulkan permintaanmu,” Ia berkata. “Saya akan memberimu tempat tinggal, makanan, dan pakaian; dan kamu akan melayaniku dan menjadi budakku untuk satu tahun.”

Tahu bahwa orang asing itu belum tahu banyak, ia disuruh ke pebukitan untuk menjaga ternak sang raja. Sepanjang tahun, ia menggembalakan domba-domba tersebut, mencari rumput-rumput hijau dan air yang segar untuk mereka serta mengusir serigala. Admetus sangat menyukainya, sebagaimana dengan pelayan lainnya, dan makanan dan pakaian terbaik diberikan kepadanya. Namun, orang asing itu tetap tidak mau memberitahu namanya serta asal-usulnya.

Setelah satu tahun berlalu, Admetus pergi ke bukit untuk melihat dombanya. Telinganya menangkap suara musik. Tidak seperti suara musik kebanyakan gembala, tetapi sangat indah dan merdu dan tidak pernah ia dengar sebelumnya. Ia mencari dari mana datangnya suara musik. Ah! ternyata datangnya dari seseorang yang duduk di puncak bukit, dengan domba di sekelilingnya mendengar musiknya. Bukanlah itu gembalanya?

Di sana ada seorang pemuda tampan, mengenakan jubah yang sangat bagus, bahkan lebih bagus dari yang dikenakan seorang pangeran sekalipun. Wajahnya memancarkan cahaya, matanya bersinar cemerlang. Di atas bahunya tersandang busur perak. Dari ikat pinggangnya tergantung lusinan anak panah, dan di tangannya ia memegang kecapi emas. Admetus berdiri, diam dan takjub. Orang asing itu berkata:

“Raja Admetus,” ujarnya, “Saya adalah pengemis miskin yang kamu kasihani—budakmu yang kamu kasihi. Saya telah melayanimu, Seperti yang kita sepakati, Sepanjang tahun, dan sekarang aku ingin pulang. Adakah sesuatu yang dapat kulakukan untukmu?”

“Ya,” jawab Admetus; “Beritahukanlah namamu.”

“Saya adalah Apollo,” jawabnya. “Dua belas bulan yang lalu, ayah saya, Jupiter, mengusir saya dan membiarkan saya sendirian di bumi; Ia mengatakan bahwa saya tidak bisa kembali sebelum saya menjadi budak seseorang selama setahun. Saya datang padamu, menjijikkan dan lapar, tetapi kamu memberiku makan dan pakaian. Aku menjadi budakmu. Kamu sangat baik padaku dengan menganggap saya sebagai anakmu. Apa yang bisa saya berikan untuk membalas jasamu?”

“Tuan busur perak,” ujar raja, “Saya telah menerima semua yang saya inginkan. Saya bahagia bisa menolongmu. Saya tidak menginginkan sesuatu lagi.”

“Sangat bagus,” ujar Apollo; “Tetapi, jika suatu saat engkau membutuhkan bantuanku, katakanlah.”

Kemudian pangeran bergegas, pergi diiringi dengan musik yang merdu; dan Admetus dengan senang hati kembali ke rumahnya.

Dari tempat tinggal Admetus, jaraknya hanya beberapa mil ke Iolcus, sebuah kota yang kaya dengan lautnya. Raja Iolcus adalah seorang tirani yang kejam, namanya Pelias, yang tidak peduli pada siapapun di dunia kecuali dirinya sendiri. Pelias memiliki seorang putri yang sangat terkenal kecantikannya, namanya Alcestis, Banyak pangeran dari seberang lautan yang terpikat mendengar kecantikannya dan datang untuk melamarnya dan menjadikannya istri. Pangeran mulia dari Yunani telah datang mencoba meluluhkan hatinya, namun hati Alcestis hanya terpaut pada satu orang yang, Raja Admetus.

Maka Admetus pergi kepada Pelias, raja yang kasar,  memohon untuk menikahi Alcestis.

“Tak seorang pun bisa memiliki putriku,” ujar Pelias, “sebelum ia membuktikan bahwa ia layak menjadi menantuku. Jika kamu menginginkannya, kamu harus datang dengan kereta perang yang ditarik oleh seekor singa dan babi hutan jantan. Jika tidak, Anda jangan berharap.” Pelias kemudian tertawa keras-keras lalu menyuruh pemuda itu meninggalkan istananya.

Admetus pergi dan merasa sedih; ia berpikir bagaimana bisa menyatukan singa dan babi hutan menarik satu kereta? Orang paling sakti pun tidak akan mampu melakukannya, pikirnya.

Ketika ia berjalan dan melihat kawanan domba merumput di atas bukit dekat tempat tinggalnya, ia teringat pada Apollo dan ucapannya ketika berpisah: “Jika kamu butuh bantuanku, beritahu padaku.”

“Saya akan memberitahunya sekarang,” ujar Admetus.

Besok paginya, ia membangun sebuah altar dari batu di lapangan terbuka; dan menyembelih domba yang paling gemuk, ia menyalakan api di altar dan membaringkan domba di atas api. Ketika wangi daging bakar persembahan memenuhi udara, ia mengangkat tangannya mengarah ke puncak gunung dan memanggil Apollo.

“Tuan Busur Perak,” teriaknya, “Saya sekarang dalam kesusahan. Bila berkenan, datang dan bantulah saya seperti janjimu!”

Ia masih memohon ketika Apollo, dengan busur dan anak panahnya, datang dan berdiri di dekatnya.

“Raja paling baik,” ujarnya, “Apa yang bisa saya bantu?”

Lalu Admetus menceritakan tentang Alcestis, dan bagaimana syarat yang diajukan oleh ayahnya.

“Kemarilah,” ujar Apollo, “Saya akan membantumu.”

Lalu keduanya berjalan bersama menuju hutan, Tuan busur perak berjalan di depan. Segera mereka menemukan seekor singa di sarangnya dan menangkapnya. Apollo menangkap binantang buas itu dengan surainya, singa itu meraung tetapi tidak menyentuhnya sedikit pun. Kemudian Admetus melihat seekor babi hutan di semak belukar. Apollo menangkapnya juga, ia membuat singa berjalan di sampingnya seperti seekor anjing. Ketika ia telah menagkap babi hutan, mereka meninggalkan hutan, membawa dua ekor binatang buas, satu di tangan kanan, satunya lagi di tangan kiri; dan Admetus mengikutinya.

Hari menjelang sore ketika mereka keluar dari hutan dan melihat laut dan kota Iolcus sudah dekat. Kereta emas menunggu mereka di sisi jalan, singa dan babi hutan akan segera menariknya. Tim yang aneh, dua ekor binatang buas mencoba berkelahi sesamanya; tetapi Apollo memcambuk mereka hingga mereka kehilangan kebuasannyadan bersedia menuruti Apollo. Admetus menaiki kereta; dan Apollo berdiri di sampingnya dan memegang kendali dan cambuk, kemudian bergerak menuju Iolcus.

[Illustration]

KERETA YANG DITARIK SINGA DAN BABI HUTAN.”

 

Ketika Apollo dan Admetus tiba di Iolcus, Raja Pelias terkagum-kagum melihat kereta yang sangat menakjubkan itu; dan ketika Admetus memohon kembali untuk menikahi Alcestis, dia tidak menolak. Hari pernikahan pun disepakati. Apollo mengembalikan timnya ke hutan dan membebaskan singa dan babi hutan.

Admetus dan Alcestis kemudian menikah, dan semua orang di kota itu bergembira, kecuali raja Pelias. Apollo juga diundang pada pesta pernikahan, dan membawa hadiah untuk pengantin baru. janji dari Dewa di puncak gunung, bahwa bila Admetus sakit parah, ia akan sembuh bila seseorang yang mencintainya bersedia mati untuknya.

Admetus dan Alcestis hidup bersama dengan bahagia dalam waktu yang lama, dan semua orang di kerajaan mereka mencintai dan menghormati mereka. Tetapi suatu ketika, Admetus jatuh sakit, dan, makin hari makin parah, hingga semua menjadi kehilangan harapan akan kesembuhan sang raja. Kemudian mereka mengingat apa yang diucapkan oleh Apollo ketika hari pernikahan, lalu mereka mulai saling bertanya, siapa yang mau berkorban untuk raja.

Ayah dan ibunya sudah sangat tua, hidupnya tidak akan lama lagi. Mereka berpikir bahwa ayah dan ibunya tidak akan keberatan bila salah seorang diantara mereka berkorban demi kesembuhan Admetus. Tetapi ketika mereka menanyakan kepada ayah ibunya, mereka hanya menggaruk kepala, dan berkata meskipun hidup kami hanya tinggal sedikit, tetapi kami masih ingin menikmati hingga kami mati.”Kami ingin hidup selama mungkin,” kata mereka.

Lalu mereka menanyakannya kepada saudara-saudaranya apakah ada yang bersedia berkorban untuk Admetus, tetapi mereka sangat mencintai diri mereka sendiri dari pada saudaranya. Ada seorang sahabat dekat yang sudah menggantungkan hidupnya kepadanya, tetapi itu pun tidak bersedia.

Ketika semuanya mengatakan “Tidak,” Alcestis yang cantik keluar rumah dan memanggil Apollo serta mengatakan bahwa ia bersedia memberikan hidupnya demi keselamatan suaminya, Admetus. Tanpa sedikitpun rasa takut, ia berbaring dan menutup matanya; dan tidak berapa lama kemudian, ketika anak-anak gadisnya datang, mereka menemukan ibunya telah meninggal.

Bersamaan, Admetus merasa sakitnya telah hilang dan merasa ia kembali sehat dan kuat seperti sebelumnya.

Ketika ia merasa heran bagaimana ia bisa sembuh, ia mencari istrinya untuk memberitahu bahwa ia telah sembuh. Namun, ketika ia berdiri, ia melihat iatrinya berbaring tak bernyawa. Orang-orang yang ada di sana memberitahukan bahwa Alcetis telah bersedia mati demi kesembuhan Admetus.

Semua orang di kota itu bersedih dan menitikkan air mata meratapi kematian Alcetis. Admetus pun sangat sedih. Ia memeluk Alcetis dan tidak bersedia melepaskannya. Ia memegang tangan Alcetis sepanjang waktu dan mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkannya sampai kapan pun.

Ketika matahari mulai terbit di Timur, Admetus terkejut merasakan tangan istrinya yang dipegangnya tersa hangat kembali. Ia menyaksikan semburat merah yang mengalir ke pipi pucat Alcetis. Sesaat kemudian, wanita cantik itu membuka matanya dan duduk. Ia telah hidup kembali.

Bagaimana Alcetis bisa hidup kembali?

Ketika ia meninggal dan meninggalkan tubuhnya, pemimpin bayangan yang tidak mengenal belas kasihan membawanya menuju kerajaan bawah tanah.

“Siapa ini yang datang dengan sukarela?” tanya ratu berwajah pucat, penguasa bawah tanah

Ketika ia diberitahu bahwa Alcetis yang begitu cantik dan masih muda itu rela berkorban demi keselamatan suaminya, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan, lalu menyuruh pemimpin bayangan untuk membawanya kembali ke bumi.***

Posted in TIOLOGI HUMANIORA and tagged , , , .